Mengenang Kejayaan Tim Nasional Era Orde Lama

Mengenang Kejayaan Tim Nasional Era Orde Lama

Mengenang Kejayaan Tim Nasional Era Orde Lama

Mengenang Kejayaan Tim Nasional Era Orde Lama. Sepak bola adalah olah raga paling populer di Indonesia selain badminton. Sayang, prestasi tim nasional Indonesia di kancah sepak bola dunia dan Asia bisa dibilang memprihatinkan. Namun jika kita mundur ke belakang, kita boleh sedikit berbangga karena di era Orde Lama (Orla) pimpinan Sukarno, timnas Indonesia merupakan salah satu timnas paling disegani di Asia walaupun tidak pernah lolos ke Piala Dunia.



Kegemilangan timnas di era Orla tidak lepas dari kebijakan Sukarno yang ingin menjadikan sepak bola sebagai alat pemersatu bangsa dan menunjukkan kedigdayaan Indonesia di mata dunia. Sebagai langkah awal, R. Maladi ditunjuk sebagai ketua umum PSSI di tahun 1950. Maladi adalah mantan kiper yang aktif memperkuat timnas pada tahun 1930 hingga 1940-an dan merupakan salah satu tokoh sepak bola nasional paling menonjol saat itu sehingga ia dianggap sebagai sosok yang paling tepat untuk menahkodai PSSI. Kejayaan timnas sendiri tidak datang secara instan.

Di tahun 1950, timnas mengikuti ajang Asian Games di New Delhi dan langsung tersingkir dini karena dihajar tim tuan rumah India 0-3. Setahun kemudian, timnas diundang untuk mengikuti turnamen persahabatan di Singapura. Dalam turnamen inilah timnas mulai menunjukkan peningkatan performa dan memikat perhatian khalayak sepak bola Asia. Indonesia sukses membenamkan Singapore Malays (juara Liga Malaysia dan Singapura) 7-0, Singapore A 4-1, dan Combine Singapore (juara Piala Malaya) 4-1. Kemenangan-kemenangan tersebut dianggap mengejutkan karena skornya yang telak dan reputasi timnas Indonesia saat itu yang masih kurang dikenal.

Tahun 1953, Indonesia melakukan pertandingan persahabatan melawan Yugoslavia di Lapangan Ikada, Jakarta, dan kalah 0-2. Walaupun kalah, pertandingan ini menjadi penting karena pertandingan tersebut menjadi ajang perekat hubungan negara Indonesia dan Yugoslavia yang notabene memiliki kesamaan ideologi. Makin dekatnya hubungan antara Indonesia dan Yugoslavia pada gilirannya membuat PSSI sukses merekrut Tony Pogacnik sebagai pelatih baru timnas. Sejak dilatih oleh pria kelahiran Split, Yugoslavia inilah, timnas mengalami lonjakan performa yang signifikan dan memasuki masa-masa emasnya.

Dimulainya Era Pogacnik


Ujian pertama Pogacnik adalah Asian Games 1954 di Manila, Filipina. Di bawah kepemimpinannya, Indonesia berhasil menggilas Jepang 5-3 dan India 4-0 di babak penyisihan grup sehingga Indonesia berhak maju ke babak semifinal. Sayang, di babak semifinal ini pula langkah Indonesia harus terhenti usai dikalahkan Taiwan 2-4. Indonesia lagi-lagi harus tersungkur setelah pada perebutan tempat ketiga, timnas kalah di tangan Burma (Myanmar) dengan skor tipis 4-5. Tahun 1956 alias 2 tahun kemudian, Indonesia untuk pertama kalinya tampil di Olimpiade yang mengambil tempat di Melbourne, Australia. Lolosnya Indonesia ke Olimpiade sendiri sedikit berbau keberuntungan karena Taiwan yang harusnya menjadi lawan Indonesia di babak kualifikasi dinyatakan kalah WO akibat telat mengirimkan daftar pemain.

Di babak awal Olimpiade, Indonesia lagi-lagi kejatuhan durian runtuh setelah timtim yang harusnya menjadi lawan Indonesia pada babak tersebut (Cina, Mesir, Hongaria, Turki, dan Vietnam) dinyatakan kalah WO karena tidak hadir.Pada pertandingan perdana Indonesia di Olimpiade, Ramang dkk. harus langsung bertemu dengan Uni Soviet yang saat itu merupakan salah satu raksasa sepak bola dunia dan masih diperkuat oleh kiper legendaris Lev Yashin. Secara fenomenal, Indonesia yang tampil dengan formasi agresif 4-3-3 berhasil menahan imbang Uni Soviet 0-0!

Pertandingan tersebut lantas kerap disebut-sebut sebagai salah satu pencapaian terbaik timnas hingga sekarang. Sayang, akibat terlalu lelah Indonesia akhirnya digunduli Soviet 0-4 dalam partai ulangan 2 hari sesudahnya. Uni Soviet sendiri akhirnya keluar sebagai juara setelah berhasil mengalahkan Yugoslavia di final. Tidak lama seusai Olimpiade, timnas dikirim ke Eropa Timur untuk beruji coba dengan timnas-timnas kawasan setempat. Pada partai uji coba pertama yang digelar di Beograd, Yugoslavia, pada tanggal 9 September, Indonesia digulung tim tuan rumah 0-2. Beberapa hari kemudian, Indonesia bertanding melawan Kroasia di Zagreb dan dicukur 0-5. Pertandingan terakhir Indonesia dalam rangkaian kunjungannya di Eropa Timur adalah melawan Jerman Timur di mana Indonesia lagilagi menelan kekalahan - kali ini dengan skor 1-3.

Meskipun selalu mengalami kekalahan, pertandingan tersebut sukses menambah pengalaman timnas dan memperkuat hubungan diplomatik Indonesia dengan negaranegara Eropa Timur. Tahun 1957, Indonesia berpartisipasi dalam Turnamen Merdeka yang digelar di Kuala Lumpur, Malaysia. Dalam turnamen tersebut, Indonesia berhasil mengukuhkan statusnya sebagai “macan Asia Tenggara” usai menerkam Thailand, Vietnam Selatan, dan tuan rumah Malaysia. Sayang, Indonesia gagal menjadi juara karena kalah dari Hong Kong di partai final. Masih di tahun yang sama, Indonesia juga mulai mengikuti kualifikasi Piala Dunia dan sukses membenamkan Cina di babak awal kualifikasi dengan agregat 5-4. Namun, impian Indonesia untuk lolos ke Piala Dunia batal terwujud setelah Indonesia dinyatakan kalah WO usai menolak bertanding melawan Israel karena alasan solidaritas dengan Palestina.

Tahun-Tahun Terakhir Kendati “gagal” di kualifikasi Piala Dunia, Indonesia masih menunjukkan kualitasnya sebagai salah satu raksasa sepak bola Asia. Di Asian Games 1958, Indonesia berhasil meraih medali perunggu cabang sepak bola usai menyingkirkan tim-tim kuat pada masa itu seperti India, Filipina, dan Burma. Tahun 1960, Indonesia lagi lagi menjadi juara ketiga, namun kali ini dalam Turnamen Merdeka di Malaysia. Baru pada Turnamen Merdeka tahun 1961 dan 1962, Indonesia bisa keluar sebagai juara pertama. Tahun 1962, Indonesia mendapat kepercayaan untuk menjadi tuan rumah Asian Games.

Namun, upaya timnas untuk tampil dengan kekuatan penuh di rumah sendiri mendapat ujian berat setelah beberapa pemain tidak bisa diikutsertakan akibat terjerat skandal suap. Berkurangnya kekuatan timnas lantas ikut mempengaruhi performa mereka di lapangan hijau. Setelah berhasil menghajar Vietnam 3-1 dan Filipina 6-0, tuan rumah Indonesia akhirnya tersingkir dini usai dikalahkan tim negeri jiran Malaysia dengan skot tipis 2-3. Asian Games 1962 juga membawa cerita lain bagi Indonesia. Karena kondisi politik internasional saat itu, Indonesia menolak keikutsertaan Israel dan Taiwan sehingga keanggotaan Indonesia di Olimpiade pun dibekukan oleh International Olympic Commitee (IOC). Sebagai balasan atas tindakan IOC tersebut, Indonesia menggelar turnamen Olimpiade tandingan dengan nama Games of New Emerging Forces (Ganefo).

Ganefo digelar pada tahun 1963 dan diikuti oleh 40 lebih negara. Layaknya Olimpiade, Ganefo juga mempertandingkan banyak cabang olah raga dan sepak bola termasuk salah satu di antaranya. Tahun 1965, terjadi peristiwa penting dalam sejarah Indonesia. Pecah peristiwa Gerakan 30 September (G30S) yang berujung pada dibubar kannya Partai Komunis Indonesia (PKI) dan berakhirnya rezim Sukarno. Perubahan iklim politik nasional yang begitu cepat lantas berdampak pula pada sepak bola. PSSI memecat Pogacnik dan menggantinya dengan E. A. Mangindaan. Pengembangan sepak bola nasional menjadi agak terbengkalai karena Suharto selaku penerus dari Sukarno lebih tertarik untuk fokus membangun perekonomian nasional.

Artikel Menarik untuk dibaca : Gerakan mahasiswa era ORLA

0 Response to "Mengenang Kejayaan Tim Nasional Era Orde Lama"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel