Sukarno Dan DeSukarnoisasi Setelah G30SPKI

Sukarno Dan DeSukarnoisasi Setelah G30SPKI

Sukarno Dan DeSukarnoisasi Setelah G30SPKI

Sukarno Dan DeSukarnoisasi Setelah G30SPKI.Sukarnopura dan Puncak Sukarno mungkin merupakan nama yang asing di telinga kita, terlebih kita yang hidup pada masa reformasi. Nama-nama tersebut sebenarnya merupakan nama-nama yang digunakan berdasarkan nama dari Bung Karno (Sukarno) yang digunakan untuk nama tempat tempat tertentu.



Sukarnopura misalnya, merupakan nama kota yang sebelumnya bernama Hollandia di tanah Papua. Sukarnopura atau Hollandia merupakan ibukota dari Papua Barat (red: sekarang Provinsi Papua), dan sekarang nama dari ibukota Papua Barat tersebut lebih dikenal sebagai kota Jayapura. Begitu pula dengan Puncak Sukarno, nama tersebut sebenarnya merupakan nama dari puncak tertinggi yang ada di pulau Papua yang sekarang lebih dikenal dengan nama Puncak Jaya. Lalu mengapa nama-nama tempat yang menggunakan nama Sukarno tersebut diubah dari yang awalnya “Sukarno” diganti dengan kata lain yaitu “Jaya”?

Sebelumnya, perlu ditarik garis sejarah yang cukup lama jauh sebelum penggunaan kata Sukarno dan De-Sukarnoisasi Sukarno pada nama nama tempat di pulau Papua. Dimulai dari kemerdekaan Indonesia yang diproklamirkan pada tanggal 17 Agustus 1945, pada masa itu the Founding Father Indonesia mengklaim bahwa seluruh tanah jajahan Belanda yang berada di wilayah yang pada waktu itu disebut sebagai Hindia Belanda merupakan wilayah Indonesia. Wilayah Hindia Belanda yang dimaksud adalah dari ujung barat Pulau Sumatera sampai dengan Papua Barat (karena Papua Timur dijajah oleh Australia).

Namun, secara de facto wilayah Indonesia pasca proklamir kemerdekaan adalah wilayah yang diklaim tersebut dikurangi Papua Barat, karena pada saat itu Papua Barat masih diduduki oleh pemerintah Belanda. Presiden Sukarno kemudian pada tahun 1960-an mengadakan langkah agar bagaimanapun juga wilayah Papua Barat bisa direbut dari tangan Belanda. Akhirnya, tanggal 19 Desember 1961 dipilih sebagai tanggal permulaan Operasi Trikora (red. Operasi pembebasan Papua Barat) di alun-alun Yogyakarta. Mayor Jenderal Suharto dipilih sebagai panglima Komando Mandala, dimana Komando Mandalalah yang terlibat dalam operasi ini untuk melawan Belanda dan merebut Papua Barat. Operasi Trikora sendiri terjadi dalam 3 tahapan besar, tahapan tersebut adalah : Tahap Infiltrasi (penyusupan) (sampai akhir 1962), yaitu dengan memasukkan 10 kompi di sekitar sasaransasaran tertentu untuk menciptakan daerah bebas de facto yang kuat sehingga sulit dihancurkan oleh musuh dan mengembangkan penguasaan wilayah dengan membawa serta rakyat Irian Barat.

Tahap Eksploitasi (awal 1963), yaitu mengadakan serangan terbuka terhadap induk militer lawan dan menduduki semua pos-pos pertahanan musuh yang penting. Tahap Konsolidasi (awal 1964), yaitu dengan menunjukkan kekuasaan dan menegakkan kedaulatan Republik Indonesia secara mutlak di seluruh Irian Barat. Operasi Trikora akhirnya berakhir dan pemerintah Indonesia dalam hal ini Komando Mandala dengan bantuan militer dari Uni Soviet berhasil mengambil alih wilayah Papua Barat. Setelah operasi tersebut sukses, lantas pemerintah Indonesia mengumumkan untuk mengganti namayang berbau Belanda untuk selanjutnya digunakan nama-nama lokal Indonesia.

Hollandia Menjadi Soekarnopura Berubah menjadi Jayapura hingga kini

Karena pergantian itulah nama ibukota dari Papua Barat yang semula adalah Hollandia kemudian diubah menjadi Sukarnopura, begitu pula dengan puncak tertinggi di Papua Barat (red. Juga tertinggi di Oceania) dinamai dengan nama Puncak Sukarno, selain di Papua memberian nama Sukarno juga dilakukan pada Gelora Olah Raga yang ada di Jakarta yaitu menjadi GOR Bung karno. Peristiwa De-Sukarnoisasi Namun, setelah peristiwa G30S yang akhirnya melalui Supersemar Presiden Sukarno menyerahkan kekuasaan kepada Mayor Jenderal Suharto. Akhirnya pada tahun 1967, Mayjen Soeharto menjadi Pejabat Presiden Indonesia dan pada tahun 1973 dipilih kembali menjadi Presiden Indonesia.

Untuk mengurangi pengaruh Sukarno pada masyarakat Indonesia, maka pemerintah Orde Baru (red. Sebutan untuk pemerintah Presiden Suharto) mengubah nama nama tempat yang ada kata Sukarno menjadi nama nama lain. Kota Sukarnopura yang merupakan ibukota dari Papua Barat diubah menjadi Jayapura begitu pula dengan Puncak Sukarno yang merupakan puncak tertinggi di Papua (red. Juga merupakan puncak tertinggi di Oceania) diubah namanya menjadi Puncak Jaya. Selain kedua nama tempat tersebut, pemerintah Orde Baru (orba) juga mengubah nama stadion/GOR di Jakarta dari yang awalnya adalah GOR Bung Karno, diubah menjadi GOR Senayan.

Nugroho Notosusanto yang dikenal sebagai Sejarahwan Orba yang dikenal dekat dengan militer (red. Pemerintah orba merupakan pemerintah militer) mencetuskan bahwa Mr. Mohammad Yamin adalah pencetus Pancasila pada tanggal 29 Mei 1945. Sejatinya pencetus Pancasila adalah Bung Karno pada tanggal 1 Juni 1945. Pada pemerintah Orba juga dikenal adanya istilah P-4 yaitu Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila yang digunakan Orba sebagai program agar mencintai negara Indonesia terutama cinta pada pemerintah Orba yang telah berhasil mengembalikan Pancasila yang pada tanggal 30 September 1965 diklaim Orba akan digantikan oleh PKI dengan ideologi Komunisme.

Selain pergantian nama-nama tempat yang terdapat kata Sukarno, pemerintah Orba juga mengabaikan pesan Bung Karno yang ingin dimakamkan di Istana Batu Tulis Bogor, dan lebih memilih Blitar dimana rumah dari orang tua Bung Karno untuk tempat pemakaman Bung Karno yang wafat pada tanggal 21 Juni 1970 (red. 15 hari setelah ulang tahun Bung Karno ke 69). Istilah penggantian nama-nama tempat yang terdapat kata Sukarno dengan nama-nama lain kemudian dikenal dengan istilah De-Sukarnoisasi. Lalu apakah alasan pemerintah Orde Baru melakukan De-Sukarnoisasi?

Presiden Sukarno dikenal sebagai salah satu presiden Indonesia yang sangat merakyat dan sangat bersahaja dengan rakyat terutama rakyat kecil. Karena pengaruhnya yang luas, bahkan pada masa pemerintah Bung Karno, bila ada Pidato yang disampaikan oleh beliau ada ratusan bahkan ribuan rakyat yang tetap setia mendengarkan Pidato dari Beliau. Hal inilah yang dikemu dian hari dirasa oleh pemerintah Orba sebagai batu sandungan untuk menancapkan pengaruh pemerintahan mereka ke dalam pikiran dan hati rakyat.

Desoekarnoisasi

Hal pertama yang dilakukan Pemerintah Orba adalah melakukan pergantian nama nama tempat yang terdapat kata-kata Sukarno, kemudian mengabaikan amanat Bung Karno tentang tempat pemakaman dan terakhir adalah penetapan ide-ide tentang dasar negara yaitu Pancasila yang sebenernya dicetuskan oleh Bung Karno diklaim oleh sejarahwan Orba sebagai ide-ide dari Mohammad Yamin. Surat Keputusan Presiden No. 7/2001 adalah surat penting yang dikeluarkan pada masa pemerintahan Abdurahman Wahid yang berisi bahwa nama dari GOR Senayan diubah menjadi GOR Bung Karno. Alasan Abdurahman Wahid karena gagasan dari pembangunan GOR tersebut adalah dari Bung Karno.

Stadion yang pada pertengahan tahun 1958 dilakukan pembangunan awal dan fase awalnya selesai pada kuartal ketiga 1962 dengan bantuan dana dari Uni Soviet, merupakan salah satu stadion terbesar di dunia. 24 Agustus 1962 merupakan tanggal dari pembukaan resmi Asian Games yang diselenggarakan di Jakarta yang dibuka di GOR tersebut. Untuk nama-nama tempat di Provinsi Papua tetap menjadi Jayapura dan Puncak Jaya. Karena dianggap Pengaruh Bung Karno pada kedua tempat tersebut dinilai kurang dibandingkan dengan pengaruh Bung Karno terhadap GOR yang ada di Jakarta. Sehingga penggunaan kembali nama Sukarno pada kedua tempat tersebut masih kurang sesuai.

0 Response to "Sukarno Dan DeSukarnoisasi Setelah G30SPKI"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel