Sukarno Dan Wanita Sekelilingnya

Sukarno Dan Wanita  Sekelilingnya

Sukarno Dan Wanita Sekelilingnya

Sukarno Dan Wanita Sekelilingnya.Di luar kisah dan intrik yang terjadi pada Sukarno dalam perjalanan politiknya, sang presiden juga punya petulangan cinta yang seru untuk diikuti. Tidak tanggung-tanggung, Sukarno punya sembilan orang wanita yang ia persunting sebagai istri. Karisma dan serta rayuan-rayuan mautnya sukses membuat wanita-wanita ini jatuh hati kepada sosok Sukarno. Mereka pun ikut mewarnai kehidupan Sukarno, baik secara personal, maupun secara politis.



Oetari Tjokroaminoto

Perkawinan pertama Sukarno terjadi ketika Sukarno masih remaja. Ketika itu Sukarno yang baru berusia 20 tahun dan masih menimba ilmu di Surabaya tinggal di rumah kawan ayahnya, H.O.S Tjokroaminoto, pimpinan dari SI (Sarekat Islam). Di sana Sukarno bertemu dengan Oetari Tjokroaminoto yang merupakan putri H.O.S Tjokroaminoto. Ketika itu Sukarno yang baru berusia 20 tahun dinikahkan dengan Oetari yang ketika itu baru berusia 16 tahun. 

Perbedaaan antara keduanya pun sangat besar, Sukarno yang ketika itu sudah sibuk terjun kedalam pergerakan politik disandingkan dengan Oetari yang masih bersifat kekanak-kanakan. Pernikahan keduanya hanya bertahan seumur jagung, Oetari yang pada awalnya ikut pindah ke Bandung bersama Sukarno untuk melanjutkan pendidikannya di THB (Technische Hoogeschool te Bandoeng - sekarang ITB ) pun dipulangkan kerumah kedua orang tuanya di Surabaya.


Inggit Ganarsih

Sukarno yang waktu itu masih berstatus sebagai suami dari Oetari sedang mencari tempat tinggal di Bandung. Tempat pertama yang dituju adalah rumah dari Haji Sanoesi di Jalan Kebon Jati, kawan dari mertua Sukarno, H.O.S Tjokroaminoto yang merupakan seorang pengusaha dan aktifis dari Sarekat Islam. Disana Sukarno bertemu Inggit yang merupakan istri dari Haji Sanusi. Singkat cerita setelah Sukarno menceraikan dan mengantarkan pulang Oetari ke rumah orangtuanya di Surabaya dan Haji Sanusi menceraikan Inggit, Sukarno langsung mempersunting Inggit pada tahun 1923.

Pada waktu itu Sukarno berusia 22 tahun sedangkan Inggit sudah berusia 36 tahun. Inggit adalah seorang wanita yang tangguh, meskipun ia tidak pernah terjun secara langsung membantu politik suaminya, tetapi Inggit menjadi penopang keluarganya dengan berjualan bedak dan jamu. Dengan berjualan itu, Inggit bisa membiayai sekolah Sukarno di THB dan menyediakan makanan serta keperluan hidup mereka. Pada saat Sukarno masuk penjara, Inggit berjalan kaki dari rumahnya ke penjara Sukamiskin setiap hari untuk mengantarkan makanan. Bahkan ketika Sukarno hampir bertekuk lutut dan menyerah, Inggitlah yang menopang Sukarno untuk kembali berdiri diatas kakinya.

Titik balik kehidupan Inggit terjadi ketika Sukarno diasingkan di Bengkulu. Sukarno yang jatuh cinta kepada Fatmawati membuat Inggit mengambil keputusan untuk kembali ke Bandung karena beliau berpegang teguh pada prinsipnya untuk tidak dimadu. Sesuai dengan judul biografi beliau yang ditulis Ramadhan K.H, “Kuantar ke Gerbang” pada tahun 1943, 2 tahun sebelum Indonesia mencapai kemerdekaanya. Sukarno bercerai dengan istri yang menjadi inspirasi & penopangnya selama 20 tahun masa-masa sulit sebelum kemerdekaan Indonesia diproklamasikan.


Fatmawati

Periode antara 1935-1940 banyak hal penting terjadi dalam rangka perjuangan kemerdekaan Indonesia. Founding fathers Indonesia, Mohammad Hatta dan Sutan Sjahrir “dipindahkan” ke Belanda, Petisi Soetarjo dicanangkan, dan Sukarno yang sedang dalam masa penahanan Belanda diasingkan ke Bengkulu. Di masa inilah Sukarno berkenalan dengan Fatmawati, yang kelak kita kenal sebagai Ibu Negara Indonesia yang pertama. Pertemuan pertama kali Sukarno dengan Fatmawati terjadi saat Sukarno mengajar di organisasi Muhammadiyah setempat. Fatmawati sendiri adalah salah satu muridnya.

Fatmawati merupakan putri dari tokoh Muhammadiyah setempat, Hasan Din. Pada awal pertemuannya Sukarno masih berstatus sebagai suami dari Inggit Garnasih yang mengikuti Sukarno ke pembuangannya di Bengkulu. Kedekatan antara Inggit dan Fatmawati membuat Fatmawati ditawari untuk tinggal bersama dengan keluarganya. Dari situlah kedekatan antara Sukarno dan Fatmawati semakin berkembang dan menimbulkan percikan cinta diantara mereka. Inggit yang tak bersedia untuk dipoligami dengan terpaksa diceraikan oleh Sukarno dan kembali ke Bandung. Tahun 1943, Sukarno yang sudah berkepala empat menikahi Fatmawati yang baru berusia 20 tahun.

Dari pernikahan ini jugalah akhirnya Sukarno mendapatkan buah hati pertamanya, karena dari dua perkawinan sebelumnya, Sukarno tidak memiliki anak kandung (Sukarno dan Inggit mengangkat anak, Ratna Djuami dan Kartika). Guntur Sukarno lahir tahun 1944, satu tahun sebelum kemerdekaan Indonesia tercapai. Tahun 1945 Perang Dunia sudah hampir mencapai akhirnya, kekalahan Jepang di berbagai medan pertempuran semakin mengobarkan semangat Indonesia untuk mencapai kemerdekaannya. Pada tanggal 16 Agustus 1945 kegaduhan terjadi diluar rumah Sukarno, para pemuda yang sudah “membawa” Moh. Hatta dan Soetan Sjahrir berteriak-teriak memanggil nama Sukarno.

Peristiwa ini dikemudian hari kita kenal dengan nama peristiwa Rengasdengklok. Peristiwa ini adalah salah satu momentum kemerdekaan Indonesia. Bendera yang sudah dijahit tangan oleh Fatmawati diserahkan untuk kemudian dikibarkan oleh para pemuda di Rengasdengklok sebagai persiapan proklamasi kemerdekaan Indonesia keesokan harinya. Setelah kemerdekaan Indonesia, ternyata kehidupan Fatmawati sebagai Ibu Negara masih jauh dari kata tenang. Agresi Militer Belanda datang lagi, Fatmawati yang di Yogyakarta harus berpisah dengan Sukarno yang diasingkan di Pulau Bangka. Disaat itulah Fatmawati melahirkan putri pertamanya,

Megawati Sukarno Putri yang di kemudian hari akan kita kenal sebagai Presiden Indonesia yang keempat. Setelah kelahiran Megawati, beliau dikarunia berturut-turut dua putri lagi yaitu, Rachmawati dan Sukmawati. Baru setelah itu pada tahun 1952, anak bungsu Sukarno dan Fatmawati lahir yang diberi nama Guruh Sukarno Putra. Setelah kelahiran Guruh ini hubungan Fatmawati dan Sukarno bagai terjun ke jurang. Sukarno yang saat itu jatuh hati terhadap Hartini ditolak permintaannya untuk menikah lagi oleh Fatmawati. Meskipun akhirnya Fatmawati bersedia untuk mengijinkan Sukarno menikah lagi dengan Hartini, Fatmawati memilih untuk keluar dari Istana Negara meskipun anak-anaknya tetap hidup di Istana.


Hartini

Tahun 1953 di kota sejuk Salatiga, Sukarno yang sedang melakukan kunjungan ke Jawa Tengah dan DIY (Daerah Istimewa Yogyakarta) singgah di kota kecil nan sejuk, Salatiga yang terletak dikaki gunung Merbabu. Disana ternyata sang Presiden bertemu dengan wanita yang kelak akan mengisi hari-harinya. Hartini, itulah nama wanita yang membuat Sukarno kepincut. Hartini pada waktu itu sedang membantu ibu-ibu lainnya didapur kediaman walikota Salatiga untuk menyiapkan penganan bagi Presiden dan rombongan. Hartini yang merasa percaya diri dengan sayur lodehnya pun mempersiapkan sayur lodeh untuk disuguhkan bersama masakan lainnya kepada Presiden dan rombongan. Presiden yang selesai berpidato di Lapangan Tamansari pun lanjut singgah di kediaman walikota Salatiga untuk menikmati jamuan makan siang.

Bung Karno yang merupakan orang jawa memang penggemar sayur lodeh begitu terkesan dengan sayur lodeh yang dimakannya, Bung Karno kemudian mempertanyakan siapa yang memasak sayur lodeh itu. Didorong oleh teman-temannya Hartini pun maju untuk menemui sang Presiden. Bung Karno yang mengulurkan tangan untuk menjabat tangan Hartini pun seperti kagum terhadap kecantikan hartini yang berwajah lembut dan berkulit kuning langsat. Dari sanalah titik awal perkenalan Sukarno dan Hartini. Kembali ke Jakarta ternyata Sukarno masih belum bisa melupakan Hartini.

Maka berkirim suratlah Sukarno kepada Hartini, beginilah isinya “Tuhan telah mempertemukan kita tien, dan aku mencintaimu. Ini adalah takdir”. Tak selesai sampai disitu telegram-telegram lainnya pun menyusul surat pertama itu. Srihani begitulah Sukarno memberikan nama sandi terhadap Hartini, sedangkan Sukarno sendiri “memanggil” dirinya sebagai Srihana. Setahun setelah pertemuan pertama mereka, keduanya bertemu kembali di kawasan Candi Prambanan. Sukarno yang sudah mengutarakan keinginannya untuk menikahi Hartini membuat hati Hartini gundah-gulana.

Hartini sendiri adalah seorang janda beranak lima, sedangkan Sukarno sendiri adalah seorang presiden Indonesia yang juga sudah beristri. Tak kuasa menolak pinangan sang Presiden, Hartini pun menerima pinangan Sukarno dengan syarat Sukarno tidak menceraikan istri pertamanya yaitu Fatmawati. Ya, dalem bersedia menjadi isteri Nandalem (Ya, saya bersedia menjadi isteri tuan), tapi dengan syarat, Ibu Fat tetap first lady, saya isteri kedua. Saya tidak mau Ibu Fat diceraikan, karena kami sama-sama wanita.” Akhirnya keduanya pun menikah di Istana Cipanas tahun 1954. Berbeda dengan Fatmawati, Hartini lebih banyak terjun didalam politik dan berperan sebagai ibu negara. Hartini mengikuti Sukarno dalam berbagai diplomasi dari luar negeri, dan bertemu dengan figur seperti Kaisar Akihito dan Permaisuri Michiko dari Jepang, Raja Norodum Sihanouk dari Kamboja dan tokoh revolusi Vietnam, Ho Chi Minh.

Akan tetapi masa-masa bahagia Hartini dan Sukarno pun menemui akhirnya. Masuk ke tahun 1960-an, kekuasaan dan popularitas Sukarno semakin memudar. PKI mulai berkembang dan puncaknya setelah terjadi peristiwa GESTOK (atau lebih dikenal dengan G30S/PKI –red). Lima bulan setelah kejadian mengerikan yang mengakibatkan kematian 6 perwira militer tinggi Indonesia dan beberapa korban lainnya, Sukarno pun lengser dan Suharto naik jadi Presiden Indonesia. Sukarno kemudian “diasingkan” di Wisma Yasso. Ketika inilah orang bisa melihat kekuatan cinta Hartini untuk Sukarno yang sedemikian besar. Meskipun pada waktu itu Sukarno sudah menikah beberapa kali lagi, Hartini tetap teguh untuk menemani Bung Karno hingga akhir hayatnya.


Ratna Sari Dewi

Berbeda dengan wanita-wanita sebelumnya yang mengisi hari-hari Sukarno Ratna Sari Dewi adalah seorang wanita dari luar negeri, yaitu Jepang. Nemoto Naoko, adalah nama asli gadis Negeri Sakura ini. Dia pertama kali bertemu dengan Sukarno ketika Sukarno melakukan kunjungan ke Jepang dan sedang melepas lelah di kawasan Akasaka. Dewi pertama kali dikenalkan oleh salah satu kolega Sukarno dari Jepang, Kubo Masao. Nemoto Naoko yang pandai dalam menyanyi dan menari pun langsung memicu ketertarikan Sukarno yang mencintai dunia seni. Setelah pertemuan itu, Sukarno dan Nemoto sering berkirim surat melalui kedutaan besar Indonesia di Tokyo.

Puncaknya pada tanggal 18 Agustus 1959, Presiden Sukarno berkirim surat yang berbeda dari biasanya, pada kesempatan kali ini Presiden Sukarno mengundang Nemoto untuk datang dan berlibur ke Indonesia. Kurang dari satu bulan setelah diterimanya surat itu, Nemoto datang ke Indonesia dengan menyamar sebagai salah satu karyawan perusahaan Tonichi milik Kubo Masao. Selama di Indonesia, Sukarno secara pribadi sering mengajak Nemoto untuk berjalan-jalan. Setelah menjalin hubungan beberapa waktu, Sukarno pun akhirnya melamar Nemoto untuk menjadi istrinya. Waktu itu Sukarno sudah memiliki tiga orang istri, yakni Fatmawati, Hartini dan Yurike.

Hal itu membuat kebimbangan dihati Nemoto, tetapi pada akhirnya Sukarno mampu meyakinkan Nemoto untuk menikahinya. Mereka berdua menikah pada tanggal 3 Maret 1962 dengan upacara yang berlangsung sederhana dan dengan mas kawin sebesar Rp. 5,-. Seteleh menikah dengan Sukarno, nama Nemoto pun diubah menjadi Ratna Sari Dewi. Pada awal pernikahannya, Dewi merasa kehidupannya sangat berat. Dirinya yang merupakan orang Jepang dibenci oleh orangorang disekitarnya dan ibunya sendiri pun merasa sangat sedih karena hal ini, hingga akhirnya meninggal dunia. 

Sukarno yang paham mengenai kesedihan istrinya ini mendirikan sebuah rumah yang kelak dinamai Wisma Yaso, sesuai dengan nama adik Dewi yang sudah meninggal dunia. Untuk bisa diterima lebih baik oleh masyarakat Indonesia Dewi pun belajar bahasa Indonesia dan seringkali mengenakan pakaian adat Indonesia.

Meskipun ada perbedaan umur yang sangat mencolok di antara keduanya, hal itu tak menghalangi besar cinta Sukarno terhadap Dewi. Sukarno pernah menuliskan Surat kepada Dewi yang isinya sangat romantis. Begini petikannya, “Kalau aku mati, kuburlah aku di bawah pohon yang rindang. Aku mempunyai seorang istri, yang aku cintai dengan segenap jiwaku. Namanya Ratna Sari Dewi. Kalau ia meninggal kuburlah ia dalam kuburku. Aku menghendaki ia selalu bersama aku.”


Haryati

Kecintaan Sukarno yang begitu mendalam terhadap seni mengalir deras dari darah ibunya, Ida Ayu Nyoman Rai, yang merupakan orang bali. Passion yang mendalam terhadap seni membuat Sukarno banyak mengoleksi karya seni dan mengagumi tarian dan lagu-lagu. Oleh karena itu, tidak heran koleksi seni Istana berjumlah paling besar ketika Sukarno masih berkuasa. Banyak penari, pelukis maupun pekerja seni lain yang sering diundang Sukarno ke Istana untuk menghibur tamu negara atau dalam acara-acara khusus. Tapi ada satu cerita spesial diantara para pekerja seni Istana, Haryati namanya.

Haryati yang sebelumnya bekerja sebagai penari istana menarik perhatian sang Presiden dengan kecantikannya. Haryati yang waktu itu sebetulnya sudah menjadi kekasih orang lain tak kuasa untuk melawan rayuan-rayuan maut yang diucapkan oleh Sukarno. Keduanya pun akhirnya menikah pada tahun 1963 saat-saat dimana kekuasaan Sukarno sudah mulai pudar. Perkawinan keduanya tidak bisa bertahan lama karena sudah tidak ada kecocokan antara mereka berdua. Tanpa dikaruniai anak, akhirnya 3 tahun berselang semenjak pernikahan mereka Sukarno memutuskan untuk menceraikan Haryati. Perkawinan Haryati dengan Sukarno jarang terekspos oleh media, tapi sewaktu Irian Barat (sekarang Papua-red) kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi, Haryati lah yang dibawa Sukarno untuk menemani kunjungannya ke sana.


Yurike Sanger

Awal mula kisah percintaan Sukarno dan Yurike dimulai ketika sekolah Yurike Sanger kedatangan seorang artis bernama Dahlia. Dahlia sedang mencari anggota untuk Barisan Bhinneka Tunggal Ika, sebuah kelompok pelajar remaja yang akan mengenakan pakaian adat dan tampil acara-acara kenegaraan. Yurike yang masih berstatus pelajar adalah anggota termuda dari Barisan Bhinneka Tunggal Ika waktu itu. Yurike pertama kali mengikuti acara kenegaraan di sebuah acara kepresidenan digelar di Istora. Yurike yang memang memiliki paras yang ayu mengenakan kebaya ala Jawa di acara tersebut.

Ketika seluruh anggota Barisan Bhinneka Tunggal Ika tengah berbaris rapi, Sukarno yang sedang berjalan di depannya tiba-tiba menghentikan langkahnya tepat didepan Yurike. Gadis belia inipun kaget bukan kepalang karena sang presiden berdiri tepat dihadapannya. Tanpa diduga sang Presiden malah menyempatkan diri untuk mengobrol dengannya. Dari perkenalan singkat itu, Yurike tidak bisa menyembunyikan kekagumannya pada sosok Sukarno yang memang berkharisma. Seiring dengan intensitas kegiatannya di Barisan Bhinneka Tunggal Ika ini, semakin intens pula pertemuan antara keduanya. Sukarno pun semakin tertarik kepada Yurike, mulai dari sekadar menyuruh duduk didekatnya hingga memberikan kue kepada Yurike.

Suatu ketika setelah acara resmi usai, Yurike yang sedang mengobrol dengan pegawai di Istana tiba-tiba di panggil oleh Sukarno. Ternyata Yurike diajak makan malam oleh Bung Karno. Ia diminta duduk dikursi sebelah Bung Karno yang sengaja dikosongkan. Di kesempatan lain, Yurike ditawari untuk menggunakan mobil istana untuk dijemput ketika Yurike mengikuti acara Barisan Bhinneka Tunggal Ika. Mulai disaat itulah perasaan cinta mulai tumbuh di benak gadis muda ini. Perhatian demi perhatian khusus yang diberikan Sukarno tak mampu dibendung gadis muda ini, sampai-sampai pada suatu kesempatan Sukarno mengantarkan Yurike pulang ke rumahnya secara pribadi.

Setelah itupun hubungan keduanya menjadi semakin dekat. Pada suatu malam Sukarno mengajak Yurike untuk bersantai di tepian pantai, di waktu itulah Sukarno pertama kali mengutarakan rasa cintanya kepada Yurike. Setelah menjalin hubungan yang lebih dalam lagi selama beberapa saat, Bung Karno yang saat itu usianya lebih dari setengah abad pun akhirnya mengutarakan keinginannya untuk memperistri Yurike yang tatkala itu masih duduk di bangku SMA. Yurike yang masih dilanda oleh kebingungan tak bisa memberikan jawaban langsung kepada Bung Karno.

Ia meminta waktu untuk mendiskusikan masalah pernikahan ini kepada kedua orangtuanya terlebih dahulu. Beberapa waktu kemudian, Bung Karno pun mengajak orangtua Yurike untuk makan malam. Pada waktu itulah Bung Karno kembali mengutarakan keinginannya untuk memperistri Yurike. Tentu saja hal ini membuat kedua orangtua Yurike terkejut. Setelah beberapa saat merundingkan lamaran ini, akhirnya kedua orangtua Yurike pun menyetujui lamaran dari sang Presiden. Raut muka sang presiden pun berubah dari yang sebelumnya tegang menjadi lega. Hari-hari yang dinanti pun akhirnya tiba, tanggal 6 Agustus 1964, Sukarno resmi menikahi Yurike Sanger.

Tapi hari-hari manis itu cepat berlalu. Karena saat-saat akhir kekuasaan Sukarno di Indonesia sudah tiba. Pada tahun 1967, ketika Suharto diangkat menjadi presiden kedua Republik Indonesia, Sukarno harus angkat kaki dari istana yang selama puluhan tahun sudah menjadi tempat tinggalnya. Kemudian Sukarno pun mulai jatuh sakit. Tidak ada lagi aliran keuangan untuk menggaji pembantu-pembantunya. Sukarno pun menggugat cerai Yurike, karena ia takut kondisi kesehatannya dan stabilitas negara pasca kepemimpinannya dapat memmberikan efek buruk pada Yurike. Dengan berat hati, Yurike pun menyetujui permintaan tersebut.


Heldy Djafar

Heldy Djafar, gadis asal Kutai Kartanegara ini adalah wanita terakhir yang dinikahi oleh Sukarno. Heldy menghabiskan masa kecilnya di Tenggarong, sebelum waktu SMP dia dan sekeluarga pindah ke Samarinda karena perusahaan tempat ayahnya bekerja dinasionalisasikan oleh pemerintah. Setelah Heldy tamat SMP, Heldy memutuskan untuk pindah ke Jakarta dan tinggal bersama kakaknya, Erham. Pertemuan Heldy dengan Sukarno ternyata tidak jauh berbeda dengan pertemuan Yurike dengan Sukarno. Heldy juga didaulat untuk menjadi Barisan Bhinneka Tunggal Ika. Ketika itu istana sedang bersiap-bersiap untuk menyambut tim Piala Thomas yang baru saja memenangi perlombaan yang diadakan di Tokyo, Jepang. Pertemuan pertama Sukarno dan Heldy terjadi ketika Sukarno sedang menaiki anak tangga di Istana.

Waktu itu Sukarno menyempatkan diri untuk bercakap-cakap dengan Heldy sejenak. Ternyata dari pertemuan itu Sukarno langsung merasa suka terhadap Heldy, maka dalam beberapa pertemuan berikutnya Sukarno pun terkesan memberikan perhatian khusus kepada Heldy. Suatu ketika rumah Erham, kakak Heldy di datangi oleh utusan istana untuk menyampaikan bahwa presiden akan datang sebentar lagi. Erham yang terkejut pun langsung menanyakan kepada Heldy perihal kedatangan Presiden.

Heldy pun tak tahu menahu mengenai permasalahan tersebut. Bung Karno hadir tanpa mengenakan pakaian kebesarannya, hanya memakai kemeja lengan pendek, celana hitam dan sandal jepit. Rupanya maksud kedatangan Sukarno waktu itu adalah untuk menguraikan isi hatinya kepada Heldy, akan tetapi Heldy yang merasa dirinya masih terlalu muda secara halus menolak hanya tersenyum dan memberikan Heldy hadiah, yaitu sebuah jam tangan bermerek Rolex. Setelah itu Bung Karno pun mengajak Heldy dan kakaknya makan diluar.

Heldy satu mobil bersama Bung Karno sementara kakaknya di mobil yang lain bersama ajudan Bung Karno. Di dalam mobil itu Bung Karno mengeluarkan rayuan mautnya kepada Heldy. “Dik, kau tahu... Kau tidak pernah mencari aku, aku juga tidak mencari kau. Tapi Allah sudah mempertemukan kita.” begitu ucap Bung Karno, Heldy yang tak bisa berkata apaapa hanya terdiam didalam mobil. Usia Heldy ketika itu baru 18 tahun sementara Bung Karno sendiri sudah mencapai 64 tahun, hampir setengah abad perbedaan usia mereka. Sejak pertama kali mengungapkan rasa cintanya yang berujung dengan penolakan itu, Bung Karno tidak menyerah, tapi makin giat dan semakin sering berkunjung ke rumah Heldy.

Lama kelamaan hati Heldy pun luluh dan menerima cinta Bung Karno. Heldy pun sering diajak Bung Karno untuk bertemu koleganya seperti Dasaad, Chairul Saleh, J Leimena dan Soebandrio. Bung Karno memang jago kalo dalam urusan memikat wanita, selain dari tutur katanya yang lembut, Bung Karno juga sering memberikan hadiah-hadiah dari yang kecil seperti mangga atau salak hingga minyak wangi dan perhiasan. Akhirnya pada tahun 1966 Heldy dinikahi oleh Bung Karno dan diberikan rumah di Kebayoran Baru. Usia perkawinan mereka hanya bertahan sebentar. Hanya dua tahun. Gejolak politik Indonesia semakin tidak menentu, Sukarno harus lengser dari tampuk kekuasannya dan “diasingkan” di Wisma Yasso. Pada waktu itu Heldy sempat mengucap ingin berpisah dari Bung Karno, tapi Bung Karno menolak walaupun pada akhirnya keduanyapun berpisah. Setelah perpisahannya dengan Bung Karno Heldy menikah lagi dengan Gusti Suriansyaah Noor, keturunan dari Kerajaan Banjar

0 Response to "Sukarno Dan Wanita Sekelilingnya"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel