ADOLF GALLAND LEGENDA SANG ELANG LUFTWAFFE

ADOLF GALLAND LEGENDA SANG ELANG LUFTWAFFE.Adolf Galland lahir pada tanggal 19 Maret 1912 di Westerholt. Di usia muda, Adolf Galland sudah belajar menerbangkan terbang layang dan mengikuti banyak turnamen terbang. Pada tahun 1934 bergabung dengan Angkatan Darat dan menjadi anggota resimen infantry, namun setahun kemudian dipindahkan ke satuan udara bernama JG 1. Pada bulan Mei 1937 Galland tiba di Spanyol, bergabung dengan Condor Legiun dan jabatannya adalah komandan Jagdstaffel 88. Selama di Spanyol, Galland belum menjadi penerbang ace. Namun kepemimpinannya banyak diacungi jempol oleh para atasannya di Jerman.

https://www.jasmerah.me/2018/11/adolf-galland-legenda-sang-elang.html

Saat PD II dimulai, Galland semakin menunjukkan kecemerlangannya baik sebagai penerbang atau sebagai komandan. Banyak penghargaan diraihnya dalam tahun 1938 sampai 1940 atas kepemimpinannya, walaupun jumlah angka korban yang dicapainya hanya 17 pesawat. Pada tanggal 22 Agustus 1940, Adolf Galland diangkat menjadi Komodor (Brigadir Jendral) dalam usia 28 tahun ! Sebuah prestasi yang menakjubkan.

Galland sendiri adalah sebuah pribadi yang penuh warna. Ia lebih pas disebut bintang film daripada seorang penerbang tempur. Galland sering terlihat bepergian dengan wanita-wanita selebritis dari kalangan ningrat, ke Paris dan berpesta pora. Tidak seperti mess penerbang tempur lain yang sunyi dan sederhana, maka mess Galland penuh dengan makanan lezat dan pesta. Di cockpit pesawatnya, Bf-109, Galland membuat tempat korek api, karena ia sering bertempur sambil merokok.

Hari-harinya sebagai komandan JG 26 yang bermarkas di Abbeville, Perancis Utara, dipenuhi dengan perang dan pesta. Suatu hari Galland berangkat menuju pesta Jendral Theo Osterkamp, sahabatnya yang juga penerbang ace dengan 32 pesawat korban. Galland mengemudikan pesawat sendiri saat itu, dengan lobster dan botol anggur di cockpitnya. Tiba-tiba ada 3 pesawat Spitfire Inggris menyerangnya. Galland langsung beraksi Saat bertempur, Galland sengaja terus melakukan komunikasi radio dengan para koleganya yang sudah berpesta di rumah Jendral Theo, hingga pesta sempat terhenti untuk mengikuti pertempuran Galland. Pesta berubah kembali menjadi hingar bingar saat Galland mengumumkan kemenangannya dengan menembak jatuh ketiga pesawat tersebut.. Saat mendarat di dekat rumah Jendral Theo, Galland langsung memamerkan lobster dan botol anggurnya yang masih utuh, sebagai bukti bahwa ia berhasil menembak jatuh 3 pesawat musuh dengan mudah.

Cerita lain yang menarik adalah kisah persahabatan Galland dan Douglas Bader, penerbang ace Inggris yang hanya memiliki kaki satu dan terbang dengan kaki palsu. Pada tanggal 9 Agustus 1941, Bader tertembak oleh anak buah Galland, namun Bader berhasil selamat dengan melaksanakan pendaratan darurat. Setelah tertangkap, Bader justru mendapat perlakuan yang istimewa dari Galland. Bader diundang dalam acara pesta malam dan Galland memerintahkan pesawat palang merah internasional untuk melintas di atas pangkalan JG 26 dan menerjunkan kaki palsu pengganti bagi Bader yang hilang saat pesawatnya tertembak. Sayangnya niat baik Galland justru dibalas dengan buruk oleh Inggris. Pesawat palang merah yang melintas ternyata tidak hanya menerjunkan kaki palsu Bader, namun juga menjatuhkan bom. Bader akhirnya dipenjarakan, namun menjadi sahabat kental Galland setelah PD II usai.

Sebelum akhir tahun 1942, Galland yang berusia 30 tahun, dipromosikan menjadi Mayor Jendral dan menjadi Letnan Jendral dua tahun kemudian. Jabatan Galland adalah Inspektur Jendral Unit Pesawat Tempur Luftwaffe. Akhir 1944, terjadi perselisihan antara para komandan lapangan dan pimpinan pusat Luftwaffe tentang strategi yang akan dijalankan di PD II. Para komandan lapangan berhadapan dengan Herman Goring, Kepala Staf Luftwaffe. Para perwira lapangan yang kukuh pendirian lalu mengundurkan diri dari tugas termasuk Galland. Hitler ternyata berpihak pada Goring. Galland ditarik ke pusat, bekerja di staf namun masih berhak menyandang pangkat lamanya.

Sampai akhir perang, Galland memiliki rekor 104 pesawat korban. Galland ditangkap oleh pasukan Sekutu tanggal 14 Mei 1945 dan menjadi tawanan perang sampai tahun 1947. Saat keluar penjara, ia dilarang untuk menjadi penerbang, hingga harus kerja serabutan sebelum mendapat undangan dari AU Argentina untuk menjadi penasehat. Galland membantu AU Argentina untuk menyusun doktrin-doktrin tempur yang nantinya dipakai dalam Perang Faklands di tahun 1982. Pada tahun 1955, Galland kembali ke Jerman. Galland memilih Jerman Barat, dan mengajukan permohonan untuk dapat kembali berdinas di Angkatan Udara. Permohonannya ditolak oleh Menteri Pertahanan. Tragisnya nasib seorang pahlawan perang, Galland memilih mendirikan sebuah biro konsultan kedirgantaraan di Bonn dan baru meninggal tanggal 9 Pebruari 1996 karena serangan jantung.

Lutwaffe’s Pasukan Udara Yang Luar Biasa


Kala PD II pecah, Luftwaffe dipenuhi pilot-pilot berpengalaman tempur. Mereka umumnya sudah pernah makan asam garam pertempuran udara sesungguhnya dalam perang saudara di Spanyol. Sayang, bakat dan talenta yang telah terasah tenggelam begitu saja gara-gara kekisruhan politik serta semrawutnya keputusan Berlin.

https://www.jasmerah.me/2018/11/adolf-galland-legenda-sang-elang.html

Walau penting, tapi kecanggihan mesin perang tak selalu jadi kartu truf buat memenangkan sebuah pertempuran. Lebih penting lagi adalah kepiawaian orang yang mengoperasikannya. Man behind the guns, begitu pepatah asing menyebutnya.

Keterlibatan Hitler dalam perang saudara di Spanyol (1936-1939) rupanya membawa hikmah bagi AU Jerman Nazi (Luftwaffe). Disini sejumlah pilot-pilot tempur muda yang dilatih secara rahasia bisa unjuk gigi dibawah bendera Legiun Kondor. Sebut saja diantaranyaLutzow, Wolfgang Schellman, Walter Oesau, Wilhelm Bathasar, Wolfgang Lippert dan Herbert Ihlefeld. Namun dari deretan nama tadi, ada satu yang dianggap paling menonjol yaitu Werner Molders.

Penyandang gelar aces dengan total skor 151 pesawat lawan ini menciptakan taktik perang udara. Schwarm atau formasi tempur empat pesawat, begitulah nama taktik perang udara temuan Molders. Keunggulannya mau tak mau membuat sekutu (Inggris) menjiplak taktik serupa. Meski untuk itu, orang Inggris lantas mengubahnya dengan sebutan four-fingers formation.

Selain kepiawaian, ada satu alasan teknis yang membuat pilot-pilot Luftwaffe lebih galak menghimpun skor. Sepanjang perang mereka bertempur terus menerus tanpa mengenal kata istirahat atau libur. Sebaliknya, pilot-pilot sekutu umumnya mengambil cuti setelah merampungkan 30 hingga 40 kali misi udara.

Saat pasukan udara sekutu mulai mengancam Berlin, kembali dedengkot Nazi ini membuat kesalahan. Jet Messerschmitt Me 262 yang aslinya dirancang sebagai pencegat disulap untuk keperluan fighter-bomber.

Battle of Britain (1940) Kegagalan Jerman Menundukan Kekuatan Udara Inggris

Battle of Britain atau pertempuran Inggris Raya dikenal sebagai salah satu pertempuran udara paling besar selama Perang Dunia ke 2. Battle of Britain sebenarnya hanyalah salah satu bagian dari Rencana penyerangan Hitler ke Inggris yang dikenal dengan Operasi Seelowe (Singa Laut). Operasi tersebut direncanakan akan berlangsung pada lewat pertengahan tahun 1940. Tergantung dari tanggapan Inggris terhadap inisiasi damai yang dilakukan oleh Jerman.

Battle of Britain (1940)

Luftwaffe mengerahkan kekuatan sebesar tiga armada udara (Luflotte) yang terdiri dari 963 pesawat tempur dan 1311 pesawat pembom, termasuk pembom jarak dekat Stuka. Kekuatan ini akan berbenturan dengan kurang lebih 800 buah pesawat tempur Inggris yang tergabung dalam RAF (Royal Air Force). Dengan jumlah yang superior, Jerman seakan-akan dengan mudah dapat menghancurkan kekuatan Inggris. Namun ketika operasi ini dimulai pada tanggal 12 Agustus 1940, nampaklah kelemahan yang sesungguhnya dari perencanaan operasi.

Operasi penyerangan udara yang oleh Jerman disebut sebagai Adlerangriffe (Serangan Rajawali) ini sebenarnya tidak disiapkan jauh-jauh hari sebelumnya. Kemenangan-kemenangan Jerman sebelumnya di Polandia dan Perancis yang begitu menyilaukan mata dunia diperoleh karena persiapan yang matang berbulan-bulan sebelumnya. Operasi penyerangan ke Perancis misalkan, rencana itu telah digagas beberapa tahun sebelumnya. Rencana itupun mengalami berbagai revisi dan penyempurnaan hingga akhirnya von Maenstein memberikan sentuhan terakhir pada awal 1940. Namun rencana penyerangan ke Inggris baru dimunculkan sekiar Juli 1940. Satu bulan sebelum operasi dimulai!

Karena perencanaan yang begitu singkat, adlerangriffe dijalankan dengan begitu gegabah. Kegegabahan itu lebih dikarenakan karena perasaan superioritas kekuatan militer Jerman terhadap Inggris yang terlalu berlebihan. Banyak serangan-serangan udara yang tidak dikoordinasikan dengan baik. Misalnya, sebuah pengeboman oleh pesawat pembom jarak jauh tidak dikawal oleh pesawat tempur sehingga pesawat pembom tersebut menjadi sasaran empuk dari pesawat tempur Inggris. Perubahan taktik pengeboman juga membuat binggung para pilot. Pada awalnya serangan dipusatkan pada serangan taktis yang bertujuan untuk menghancurkan instalasi militer Inggris, namun seiring berjalannya waktu fokus serangan itu diganti menjadi serangan strategis yang menghancurkan wilayah sipil dan perkotaan, tidak berapa lama fokus serangan diganti lagi misal penghancuran tenaga perkapalan Inggris. Skenario serangan juga sering diganti dari pengeboman siang hari menjadi malam dan kemudian diubah siang kembali. Barangkali jika ditilik dari segi strategis, perubahan semacam itu perlu dilakukan. Hanya saja penggantian skenario serangan itu tidak direncanakan dengan baik sehingga ketika satu operasi belum selesai dilakukan, telah terjadi penggantian skenario serangan yang lain dan begitu seterusnya.

Banyak peneliti yang menimpakan kesalahan taktik ini kepada Hermann Goering. Seorang anggota partai NAZI yang menjadi chief of air dari Luftwaffe. Goering adalah pahlawan perang Jerman semasa Perang Dunia I. Ia bersama dengan Manfred von Richtofen (The Red Baron) adalah pilot-pilot legendaris di masanya. Seusai perang, Jerman dilarang untuk mempunyai angkatan udara. Dan kesatuan-kesatuan udara dibubarkan. Meskipun begitu Goering tetap berada di militer sementara waktu dan suatu hari bergabung dengan Partai NAZI. Ia menjadi suporter fanatik dari Hitler. Goering ditunjuk menjadi pemrakarsa dari pembentuk blue print dari angkatan udara Jerman yang baru ketika Hitler berkuasa. Dan di saat-saat inilah mulai timbul kebiasaan buruk dari Goering. Ia gemar sekali mengkonsumsi minuman keras dan opium. Perutnya mulai membuncit dan ia tidak terlalu fokus dengan pekerjaannya. Barangkali inilah penyebab dari kacaunya taktik operasi udara adlerangriffe. Meskipun tentu saja tidak hanya masalah ini yang menjadi bahan pertimbangan utama.

Kesalahan yang barangkali paling kentara adalah masalah VD – Victory Disease (Penyakit Kemenangan). Jerman sampai detik itu belum pernah sekalipun kalah dalam medan perang manapun. Bisa dikatakan juga bahwa Battle of Britain itu sendiri bukanlah sebuah kekalahan karena Jerman hanya gagal untuk menundukan kekuatan udara Inggris dan bukannya kalah. Kekalahan Jerman baru akan ada di babakan Perang Rusia, dua tahun kemudian di Stalingrad, hampir bersamaan dengan itu adalah kekalahan Jerman di Afrika Utara. Victory Disease menyebabkan tentara menjadi terlalu underestimates lawannya dan memandang rendah potensi kekuatan lawan. Inilah yang membuat pilot-pilot Jerman kemudian shock ketika melihat pilot-pilot udara Inggris yang ternyata juga jago bertarung di udara.

Bila ditilik dari segi militer semata, sebenarnya superioritas Jerman tidaklah begitu tinggi. Jumlah seluruh pesawat tempur Jerman hanya 900 – 1000 buah sementara pesawat tempur Inggris berjumlah 800 buah. Pesawat pembom saat itu praktis tidak mempunyai nilai serangan air to air yang signifikan. Soal pengalaman tempur, pilot Inggris dan Jerman bisa dikatakan sama-sama nihil. Hanya saja pesawat tempur Inggris mempunyai satu keungulan yaitu kecepatan. Pesawat tempur jenis Supermarine Spitfire mempunyai kecepatan maksimal 330 mph sementara Messerschimtt Bf 109 milik Jerman hanya mempunyai kecepatan maksimal 250 mph. Perbedaan kecepatan itu rupanya sangat signifikan dalam pertempuran udara. Terutama ketika pilot dihadapkan pada pertempuran dog fight, pertempuran kejar mengejar antara dua buah pesawat tempur.

Hasil akhir Battle of Britain berakhir dengan kegagalan besar di pihak Jerman. Ratusan pesawat Jerman baik pembom maupun tempur rontok, walaupun kerugian di pihak Inggris tidaklah kecil. Namun efek yang timbul bagi Jerman jauh lebih hebat daripada efek untuk Inggris. Inggris sementara itu masih dapat memperoleh suku-cadang dan pesawat-pesawat baru dari Amerika Serikat melalui perjanjian dagang yang kala itu belum sudi terjun ke kancah peperangan. Kerugian mereka dapat ditutup hanya dalam hitungan bulan. Sementara itu Jerman yang self produce kekuatan militernya hanya dapat berharap dari produksi dalam negerinya sendiri. Ketika Jerman menyerang Uni Soviet delapan bulan kemudian. Kekuatan udara Jerman tidaklah lagi seperkasa dahulu ketika mereka memulai invasi ke Perancis dan Polandia. Itu sebabnya pula Uni Soviet dapat memindahkan mesin produksi pabrik-pabrik mereka ke tempat yang lebih aman yaitu di Pegunungan Ural sebelum pabrik-pabrik itu sempat di bom oleh pembom Jerman. Untuk kemudian dapat memproduksi mesin militer yang kemudian digunakan untuk menghantam kekuatan Jerman di kemudian hari.

Jago Tempur Lufwaffe di Selat Channel Inggris 1939-1944 


Pertempuran udara ini terjadi di sepanjang selat Channel Inggris yang jadi perbatasan antara Perancis dan Inggris. Umumnya kekuatan udara yang bertempur diselat Channel adalah RAF Inggris vs Luftwaffe Jerman.

Pertempuran udara disepanjang selat Channel ini sudah berlangsung sejak Jerman menduduki Perancis dan melancarkan serangan udara besar-besaran untuk membombardir Inggris sepanjang Juli sampai Oktober 1940.

Pilot-pilot RAF dan Luftwaffe sendiri adalah kedua kekuatan yang selalu baku hantam diatas langit selat Channel dan pesawat-pesawat keduanya sudah sering berjatuhan dan berguguran menuju laut atau mendarat dipantai musuh.

Ketika Jerman melancarkan operasi udara untuk mendukung serbuan Sea Lion, maka pertempuran udara pun tidak terelakan lagi antara penempur Supermarine Spitfire vs pemburu Messerschmitt Me-109 yang berduel (dogfight) dilangit selat Channel.

Pertempuran sempat reda saat pesawat-pesawat pembom dan pemburu Jerman banyak dikerahkan untuk membombardir kota-kota didaratan Inggris, sehingga lokasi pertempuran pun berubah drastis.

Tapi saat Jerman menunda operasi Sea Lion yang pada akhirnya dibatalkan oleh Hitler sendiri, maka pertempuran antar pesawat tempur kedua belah pihak kembali dimulai. Menjelang akhir tahun 1940 Inggris meluncurkan pesawat pemburu baru mereka, yaitu de Havilland Mosquito yang juga berfungsi sebagai penempur pada malam hari.

Dan kemunculan Bristol Beaufighter pada tahun 1941 juga sempat merepotkan pertahanan udara Jerman di Eropa Barat karena pesawat-pesawat ini sering “nakal” menyerang kapal-kapal laut Jerman yang berlabuh di Belanda dan Perancis.

Adolf Galland, Egon Meyer, dan Josef Pips Priller adalah pilot-pilot yang sering bertempur menghadapi kekuatan udara RAF Inggris.

Memasuki tahun 1942 saat Amerika Serikat turut bergabung dalam kancah peperangan akbar di Front Eropa, maka pesawat-pesawat USAAF juga ikut dikirim untuk meladeni kekuatan Luftwaffe di selat Channel.Penempur macam P-47 Thunderbolt adalah andalan USAAF untuk menghadapi Fw-190 Luftwaffe.

Ditahun 1943 gelombang pesawat pembom raksasa bermesin empat Avro Lancaster milik RAF berdatangan silih berganti berusaha menghancurkan industri militer Jerman di lembah Rhein Barat.
Tapi sekali lagi raksasa-raksasa bomber ini harus berhadapan menghadapi armada Luftwaffe yang sangat kuat.

Menjelang operasi Overlord 1944 yang digelar oleh Sekutu, armada tempur USAAF dan RAF yang berjibun jumlahnya berusaha melumpuhkan kekuatan udara Luftwaffe sebelum operasi dimulai.
Tidak hanya itu, pesawat-pesawat bomber Sekutu juga dikerahkan membombardir industri-industri militer Jerman.

Pada saat operasi dimulai, maka pecahlah pertempuran udara antara P-51, P-47, P-38, Spitfire, Mosquito, dan Typhoon menghadapi Me-109G-7, Fw-190, Hs-129, dan Me-262 disepanjang Eropa Barat sampai selat Channel Inggris.

Pertempuran udara yang terjadi setiap hari ini berakhir dengan keunggulan Sekutu dalam jumlah besar dan pilot yang berpengalaman, sehingga Luftwaffe mundur untuk gantian mempertahankan negeri mereka dari bomber-bomber Sekutu dan Soviet.

Adolf Galland, Egon Meyer, dan Josef Pips Priller dengan skor 104, 102, dan 101 kemenangan mereka peroleh sepanjang bertempur di Front Eropa Barat khususnya selat Channel Inggris.

Me-262 Hi-Tech yang Terlambat Produksi 


Messerschmitt Me-262 merupakan pesawat tempur bermesin jet pertama di dunia yang dimiliki Nazi Jerman, biasa disebut Stormbird atau Sturmvogel atau Schwalbe oleh pilot Jerman, sementara Tentara Sekutu menyebutnya Turbo atau Blow Job. Melakukan debut operasionalnya saat Perang Dunia ke-2, sebagai bomber interceptor (pencegat pesawat pengebom) atau fighter plane, dengan kecepatannya yang luar biasa, persenjataan yang sangat kuat, sangat mudah untuk melakukan intercept dan menghancurkan pesawat pengebom (bomber) Tentara Sekutu. Pada suatu hari Hitler memberikan perintah untuk mengubah fungsi pesawat tempur ini menjadi pesawat pengebom, yang akibatnya menjadi salah satu penyebab keterlambatan ataupun kendala dalam memproduksi mesin perang ini. Jika saja itu tidak terjadi, mungkin pesawat tempur bermesin jet pertama di dunia ini bisa merubah sejarah Perang Dunia ke-2.

Performa, Persenjataan dan Tipe


Me-262 merupakan mesin perang paling termodern dan tercanggih pada eranya, bahkan mengalahkan lawan tangguhnya pesawat tempur baling-baling bermesin Piston North American P-51D Mustang yang mempunyai kecepatan 700 Kmh (437 Mph), sementara Me-262 mempunyai kecepatan 870 Kmh (540 Mph).

Versi fighter-nya bernama Schwalbe (Swallow), dipersenjatai dengan empat senjata mesin 30mm di bagian depan hidungnya, memberikan efek yang luar biasa terhadap pesawat pengebom Sekutu, dan juga memberikan keuntungan jarak tembak terhadap pertahanan senjata pesawat pengebom Sekutu. Sebelum perang berakhir, tipe ini juga pernah dipersenjatai dengan R4M unguided 50mm air-to-air rockets yang memberikan efek mematikan bagi formasi pesawat pengebom Sekutu, juga keuntungan jarak tembak yang dapat ditembakkan dari jarak jauh.

Versi night fighter two-seater nya juga dilengkapi dengan RADAR dan pelacak pasif yang dapat mendeteksi pesawat Sekutu melalui sebuah transmisi. Keuntungan kecepatan beserta RADAR yang dimiliki mempermudah untuk melakukan intercept terhadap pesawat-pesawat pengebom tipe Mosquito milik Sekutu yang sebelumnya sulit untuk dijatuhkan.

Hitler yang memerintahkan pesawat jet tempur ini berubah menjadi versi pesawat pengebom (bomber) terbukti sangat tidak efisien. Selain diperlengkapi dengan senjata mesin 30mm di bagian depannya, pesawat ini harus membawa dua bom seberat 500lb, pada umumnya tidak efisien sebagai pesawat pengebom karena presisi yang rendah (terbatas pada pengeboman di ketinggian tingkat tinggi), beban bom yang rendah, dan jarak yang rendah. Kemudian Hitler juga menuntut agar bomber ini dipiloti oleh pilot yang biasa menerbangkan pesawat pengebom, ini terbukti gagal total, karena kekurangan pelatihan pesawat tempur yang di dapat oleh pilot pengebom tersebut.

Pada akhirnya sekitar 1400 pesawat Me-262 telah diproduksi, namun dibawah 100 pesawat yang bisa dioperasionalkan, masalah utamanya karena kekurangan bahan bakar. Top skorer Me-262 adalah Heinz Baer dari unit JV44 dengan 16 kemenangan.

Kamikaze Pasukan Jerman


Ketika posisi Jerman betul-betul terdesak oleh kekuatan Sekutu khususnya ribuan pesawat pengebom yang terus-menerus menyerang daratan Jerman, semangat untuk membangkitkan serangan kamikaze muncul lagi. Merasa ada kesempatan, Hajo Hermann yang dulu bersama dua rekannya pernah membentuk Leonidas Squadron lalu menemui komandan pilot buru sergap (Head of The Fighter Command) Luftwaffe, Marsekal Adolf Galland. Di hadapan Marsekal Galland, Hajo Herman kemudian memaparkan rencananya untuk membangun lagi skadron kamikaze. Tapi ide Hajo Herman langsung ditolak mentah-mentah oleh Galland karena misi kamikaze untuk menyergap pesawat pengebom Sekutu yang dikawal ketat ratusan pesawat tempur akan sangat sulit dilakukan.

Galland sendiri meragukan kemampuan dan pemahaman Hajo Herman dalam teknis buru sergap pesawat tempur mengingat pilot yang terkenal nekat itu lebih banyak menerbangkan pesawat pengebom. Hajo Herman yang kecewa berat lalu menemui komandan Luftwaffe Marsekal Herman Goering yang pernah menjadi mentornya di unit pengebom Luftwaffe.

Sebelum Hajo Herman menghadap Galland dan Goering, dua petinggi Luftwaffe ini sebenarnya bak musuh dalam selimut. Sebagai Marsekal yang dibesarkan oleh unit pengebom Goering merasa dirugikan oleh dominasi pesawat tempur yang berakibat pada dihentikannya produksi pesawat pengebom. Sebaliknya produksi pesawat tempur terus ditingkatkan bahkan para teknisi pesawat pengebom dipindahkan ke pabrik pemroduksi pesawat tempur. 

Sekarang, ketika posisi Jerman makin terdesak, kesempatan itu dimanfaatkan oleh Goering untuk menjatuhkan semua penyebab kehancuran Luftwaffe kepada penanggung jawab komandan tertinggi pilot tempur Luftwaffe. Dalam kondisi di ambang kehancuran itu Galland memang tidak bisa berbuat banyak dan jika Hajo Hermann menemui Goering dengan rencana membentuk skadron kamikaze, ada kemungkinan rencana itu akan dikabulkan.

Sewaktu Hajo Herman mengajukan rencana tentang pembentukan skadron kamikaze kepada Goering, orang ketiga di tubuh Jerman itu sangat terperanjat karena pilot-pilot Lutfwaffe tidak pernah didoktrin untuk melancarkan serangan bunuh diri. Selain itu ada faktor lain yang juga makin membuat Goering pesimis karena infrastruktur Luftwaffe sudah lemah dan pilot yang bersedia menjadi pilot kamikaze belum jelas. 

Ide pilot kamikaze bahkan membuat perasaan Goering tidak enak karena cara kamikaze itu seolah mencerminkan dirinya tidak memiliki strategi lain yang lebih baik. Tapi ternyata tak ada pilihan lain bagi Goering yang pada awal serbuan Sekutu di Normandia pernah membentuk Skadron Bunuh Diri. Untuk menjawab ya atau tidak, Goering memutuskan hams menemui Hitler terlebih dahulu. Marsekal Goering sebenarnya ragu karena Hitler pernah marah besar pada Skadron Kamikaze FW-190 yang pernah dibentuknya.

Kali ini Hitler ternyata menyetujui dibentuknya skadron kamikaze. Meskipun dengan perasaan berat hati dan pesimis apa bisa memperoleh pilot yang mau melaksanakan misi kamikaze, Goering akhirnya memaksakan diri untuk membentuk skadron bunuh diri. Goering pun mulai melaksanakan seleksi terhadap calon pilot kamikaze yang minimal memiliki pengalaman 50 jam terbang. Pendaftaran untuk menerima sukarelawan kamikaze pun dibuka tepatnya pada bulan Maret 1945. 

Di luar dugaan sukarelawan yang mendaftar ternyata mencapai jumlah 2.000 orang. Jumlah ini sangat mengagetkan Goering karena kini di hadapannya berdiri ribuan orang yang siap memberikan nyawanya demi negeri Jerman yang sesungguhnya tidak mungkin pilot andalan bagi 303rd Bombardment Group. Jika pesawat bomber yang dipiloti oleh Werner berhasil dijatuhkan oleh kamikaze jerman akan kehilangan anak buah dan sekaligus seorang keponakan.

Dengan jumlah calon pilot kamikaze yang mencapai angka ribuan Goering pun meminta Luftwaffe agar menyiapkan sedikitnya 1.500 unit pesawat tempur. Tapi jumlah seperti itu mustahil dipenuhi karena semua kekuatan udara yang dimiliki oleh Luftwaffe di semua front tinggal 800 pesawat. Itu pun dengan suku cadang dan bahan bakar yang kurang memadai. Akhirnya hanya tersedia 180 pesawat bagi unit kamikaze dan rata-rata merupakan pesawat tua yang selama ini tidak lagi dioperasikan oleh Luftwaffe Me 109G-10, G-14, dan K-4.

Untuk melindungi pesawat-pesawatnya kamikaze itu dikerahkan pesawat tipe Me-262 dan FW-109 tapi jumlahnya sangat terbatas. Karena waktu untuk melaksanakan misi kamikaze tinggal sedikit, 24 pilot Kamikaze hanya menjalani latihan selama dua minggu dan selanjutnya diperintahkan untuk segera menyerang pesawat-pesawat pengebom AS.

Serangan kamikaze

Lewat tengah hari (12.30) bentrokan antara pesawat-pesawat AS dan kamikaze jerman berlangsung makin seru. Pilot-pilot kamikaze yang bertempur dengan rasa frustrasi karena menghadapi musuh yang terlalu banyak juga makin menunjukkan kenekatannya. Satu lagi Bf-109 berhasil menggasakkan diri ke Liberator sehingga langsung terbakar dan menukik jatuh. 

Satu Bf-109 yang terus dihujani tembakan dari Liberator hingga bodi pesawatnya penuh lubang bahkan berhasil mendekati Liberator lainnya dan menggasakkan diri tepat di kokpit. Ledakan hebat disusul kokpit yang menganga rontok mengakibatkan Liberator meledak terbakar dan meluncur jatuh. Para pilot Liberator yang menyaksikan pesawat jatuh masih berharap ada parasut mengembang dari rekan yang selamat.

Aksi nekat kamikaze Nazi Jerman diwarnai aksi dua rekan akrab yang sama-sama bersepakat untuk menabrakkan diri pada satu bomber dan mati bersama. Tapi salah satu pilot berhasil bail out dan mendarat selamat meskipun terdapat 19 lubang peluru di parasut dan jaketnya. 

Kisah-kisah heroik di tengah aksi nekat kamikaze Jerman terus saja berlangsung. Tapi hingga menjelang sore hari dan seluruh pesawat bomber AS dan pelindungnya akhirnya kembali lagi ke pangkalan, perlawanan kamikaze ternyata tidak menimbulkan efek yang berarti. Dan 120 pilot Rammkommando Elbe yang dikerahkan untuk melancarkan serangan kamikaze hanya tersisa 15 pilot yang hidup. Sedangkan bomber AS yang berhasil dijatuhkan hanya sekitar 13 unit. Jumlah yang sangat kecil mengingat bomber yang dikerahkan mencapai ribuan unit. 

Namun demikian kendati aksi kamikaze Jerman itu tidak mampu mengguncang kekuatan udara Sekutu mereka tetap dikenang dan dihargai. Luftwaffe kemudian membuat monumen khusus untuk mengenang para pilot muda yang gugur dan telah berbakti kepada negaranya hingga tetes darah terakhir. 

Jagdverband (JV) 44, Galland’s Elite Unit


Sejak pendaratan di Normandia, Juni 1944, gerak maju sekutu bagai tak terbendung. Gelombang serbuan pemboman udara dengan kawalan P-51 Mustang dan P-47 Thunderbolt membuat frustasi Luftwaffe. Beruntung AU Nazi punya modal baru berupa penempur bermesin jet Me 262 Schwalbe. Sayang, kesaktiannya sebagai pesawat pemburu baru bisa dieksplorasi habis hanya beberapa minggu sebelum Berlin jatuh.

Adalah General der Jagdflieger Adolf Galland, ace dengan skor 103 pesawat (7 diantaranya diatas Me 262) sekaligus orang pertama yang sadar betul dengan potensi Me 262 untuk mengganjal dominasi udara sekutu Cuma untuk mewujudkan ide itu tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Bahkan bagi orang sekelas Galland yang kala itu menduduki jabatan sebagai orangnomor satu satuan pemburu Luftwaffe.

Ganjalan justru datang dari sang Fuhrer. Ironisnya, Gallandmalah dijadikankambing hitam oleh Panglima Tertinggi Luftwaffe Reichmarshall Herman Goring sebagai biang kegagalan satuan pemburu menahan gelombang serangan armada pembom sekutu. Ini pula yang selanjutnya menyebabkan Galland mesti rela lengser dari jabatan dan diperintahkan keluar dari Berlin.

Kejadian tadi nyaris membuat Galland bunuh diri. Beruntung, Albert Speer yang tak lain menteri bidang persenjataan tahu keadaan Galland. Ia pun berusaha membujuk Hitler. Hasilnya, Hitler memperbolehkan Galland untuk memakai Me 262 sebagai unsur pencegat murni dan membentuk sebuah satuan tempur elit.

Jagdverband (JV) 44, begitulah nama unit bentukan Galland. Resmi berdiri 10 Januari 1945 di Brandenburg-Briest, skadron ini dibekali 60 varian Me 262A-la. Soal pengalaman tempur 61 pilot yang mengawakinya tak perlulagi dipertanyakan. Sebut saja salah satunya Oberst (kolonel) Heinz Bar yang sudah mengantongi prestasi lebih dari 200 pesawat lawan. Atau Oberst Johannes Steinhoff pemegang skor 170 pesawat musuh. Secara teknis para pilot JV 44 dipilih sendiri oleh Galland.

Selain armada jet, Galland juga melengkapi satuan ini dengan pemburu konvensional Focke-Wulf Fw190D-9 Dora. Fungsinya tak lain buat melindungi Me-262 saat tinggal landas. Ada yang unik dari tampilan Dora pelindung tadi. Seluruhbagian bawahpesawat sengaja dilaburiwarna merah terang plus strip putihmelintang. Tujuannya agar para petembak meriam antipesawat Luftwaffe tak salah menembak. Keuntungan lain, pilot-pilot Me 262 bisa mengenalinya sebagai pesawat kawan. Sekadar tambahan, trik serupa pernah pula diterapkan pada Kommando Nowotny, skadron Luftwaffe pertama yang dilengkapi Me 262.

Upaya Galland membentuk satuan fighter elit sempat membawa hasil. Hanya dalam kurun waktu sebulan, sekitar 40 pesawat sekutu berhasil dirontokkan. Tak hanya itu. JV 44 juga pielahirkan salah satu ace jet terbaik selama PD II. Di atas kokpit Me 262, Oberst Heinz Bar berhasil merontokkan 16 pesawat lawan.

Sayang, kiprah skadron elit ini tak didukung sepenuhnyapasokan suku cadang serta bahan bakar. Dari 60 pesawat yang tersedia, tercatat hanya enam Me 262 yang layak terbang. Pemboman sekutu juga memaksa JV 44 menggeser lokasinya dari Munchen-Riem ke lapangan terbang Ainring, sebelah selatan Pegunungan Alpen, Jerman. Pangkalan ini baru dipergoki oleh sekutu pada Mei 1945.

0 Response to "ADOLF GALLAND LEGENDA SANG ELANG LUFTWAFFE"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel