BELISARIUS THE LAST ROMAN GENERAL STORIES

BELISARIUS THE LAST ROMAN GENERAL STORIES

BELISARIUS THE LAST ROMAN GENERAL STORIES.Flavius Belisarius (Yunani: Βελισάριος, sekitar 505 – 565 M) adalah seorang jenderal Imperium Bizantin. Ia sangat berperan dalam proyek ambisius Kaisar Yustinianus untuk menaklukkan kembali wilayah Mediterania yang pernah dikuasai Imperium Romawi Barat. Wilayah ini lepas dan direbut bangsa lain kurang dari satu abad sebelumnya.



Salah satu keistimewaan karir Belisarius adalah kesuksesannya meskipun menerima dukungan yang tidak selalu positif dari Yustinianus. Namanya sering dimasukkan dalam golongan “Orang-orang Romawi Terakhir”.

Awal Kehidupan dan Awal Karir

Belisarius kemungkinan lahir di Germane atau Germania, sebuah kota kecil berbenteng (sejumlah sisa arkeologis masih bisa dilihat) berlokasi di Sapareva Banya di barat daya Bulgaria, di perbatasan Thracia dan Illyria. Ia dilahirkan di keluarga Illyria yang kemungkinan merupakan keturunan Goth[5]. Bahasa Latin adalah bahasa ibunya dan ia telah menjadi prajurit Romawi sejak masih muda, bertugas sebagai pengawal Kaisar Yustinus I.

Ia mendapat perhatian khusus dari Yustinus dan keponakannya, Yustinianus, karena aksinya yang menjanjikan dan inovatif. Ia diizinkan oleh kaisar untuk membentuk sebuah resimen pengawal (bucellarii), terdiri dari kavaleri berat, yang kelak akan berkembang menjadi sebuah resimen dengan ukuran penuh, 1.500 anggota. Bucellarii yang dipimpin oleh Belisarius adalah inti dari pasukan-pasukan yang kelak akan dia pimpin. Bersenjatakan tombak, busur komposit (kemungkinan bergaya Hun), dan pedang, mereka juga memakai baju baja lengkap sesuai standar kavaleri berat di zamannya. Sebagai sebuah satuan multifungsi, mereka mampu bertempur dalam jarak jauh dengan panah, seperti halnya Bangsa Hun; atau bisa juga sebagai kavaleri kejut, menyerbu dan menghancurkan musuh dengan tombak dan pedangnya. Secara esensi, mereka memadukan aspek terbaik dan paling berbahaya dari dua musuh besar Romawi, yaitu Bangsa Hun dan Bangsa Goth.

Dengan wafatnya Yustinus pada tahun 527, kaisar baru, yaitu Yustinianus I, menunjuk Belisarius untuk mengambil komando pasukan Romawi di timur untuk mengatasi serangan Imperium Sassanid. Dengan cepat, ia membuktikan bahwa dirinya mampu dan merupakan komandan yang efektif, mengalahkan pasukan Sassanid yang lebih banyak melalui kepemimpinan yang lebih baik. Pada bulan Juni/Juli 530 di dalam Perang Iberia, ia memimpin pasukan Romawi dalam kemenangan gemilang melawan Sassanid pada Pertempuran Dara, yang diikuti dengan kekalahan secara taktik dalam Pertempuran Callinicum di Sungai Eufrat, tahun 531 – kekalahan ini masih bisa dianggap sebagai kemenangan dalam strategi karena Persia mundur kembali ke dalam daerahnya. Hasilnya adalah negosiasi “Perdamaian Abadi” dengan Persia, dan Romawi membayar upeti dalam jumlah besar sampai beberapa tahun sebagai ganti perdamaian dengan Persia. Hal ini memberikan kebebasan bagi Romawi untuk menempatkan sumber daya militer mereka ke lokasi lain.

Pada tahun 532, ia adalah pejabat militer tertinggi di ibukota, Konstantinopel, ketika Kerusuhan Nika pecah di sana (antara faksi-faksi pendukung dari balap kereta perang) dan hampir saja mengakibatkan Yustinianus digulingkan. Belisarius, dengan bantuan magister militum dari Illyricum yang bernama Mundus, bersama Narses dan John dari Armenia, menumpas pemberontakan dalam aksi berdarah di Hippodrome, tempat berkumpulnya pemberontak. Dikabarkan bahwa peristiwa ini menelan 30.000 korban jiwa.

Ekspedisi-ekspedisi Militer Perang Melawan Vandal

Ekspedisi-ekspedisi Militer Perang Melawan Vandal

Karena kerja kerasnya, Belisarius dianugrahi oleh Yustinian kepemimpinan dalam ekspedisi darat dan laut melawan Kerajaan Vandal, pada rentang tahun 533-534. Romawi mempunyai sejumlah alasan politis, agamis, dan strategis untuk memerangi mereka. Raja Vandal bernama Hilderic yang pro-Romawi telah dijatuhkan dan dibunuh oleh Gelimer, memberikan Yustinianus alasan yang kuat. Terlebih lagi, Bangsa Vandal yang menganut Kristen Arian, secara rutin menganiaya pemeluk Kristen Nikea yang tinggal di daerah kekuasaannya.

Kebanyakan penganut Kristen Nikea melarikan diri ke Konstantinopel untuk memperbaiki hidupnya. Vandal juga melakukan sejumlah pembajakan pada jalur perdagangan Romawi sehingga menurunkan keuntungan komersial di daerah barat Imperium. Yustinianus juga bermaksud untuk menguasai daerah kekuasaan Vandal di Afrika bagian utara, yang dulunya merupakan daerah terkaya dan lumbung gandum Imperium Romawi Barat. Daerah tersebut sekarang sangat vital untuk menjamin terbukanya jalur bagi Romawi untuk mengakses Mediterania bagian barat.

Di akhir musim panas tahun 533, Belisarius menyeberang ke Afrika dan berlabuh di dekat Caput Vada (di dekat Chebba di pantai Tunisia). Ia memerintahkan kapten-kapten kapal agar jangan sampai kehilangan pandangan dari pasukan daratnya, kemudian ia memimpin pasukan darat ini berjalan menyusuri jalur pantai menuju ibukota Vandal di Kartago. Ia melakukan hal ini untuk mencegah terputusnya suplai dan menghindari kekalahan besar seperti halnya yang terjadi pada percobaan pertama Basiliskus untuk merebut Afrika utara 65 tahun sebelumnya yang berakhir dengan bencana bagi Romawi pada Pertempuran Cap Bon tahun 468.

Sepuluh mil (16 km – pent) dari Kartago, pasukan Gelimer (yang baru saja mengeksekusi Hilderic) dan pasukan Belisarius bertemu dalam Pertempuran Ad Decimum pada tanggal 13 September 533. Kekalahan hampir saja menimpa Romawi. Gelimer memilih tempat yang paling baik dan cukup berhasil dalam bertempur di jalur perjalanan Romawi menuju Kartago. Namun Romawi terlihat lebih dominan. Di puncak pertempuran, Gelimer terpukul mendengar kabar bahwa saudaranya tewas dalam pertempuran. Kejadian ini memberi kesempatan bagi Belisarius untuk mengumpulkan kembali pasukannya dan ia akhirnya memenangkan pertempuran dan merebut Kartago.

Kemenangan kedua terjadi dalam Pertempuran Tricamarum tanggal 15 Desember di tahun yang sama, memaksa Gelimer untuk menyerah pada awal tahun 534 di Gunung Papua, mengembalikan Afrika utara sebagai provinsi Romawi. Atas prestasi ini, Belisarius dianugrahi sebuah perayaan Kemenangan (Triumphus; untuk yang terakhir kalinya) ketika ia kembali ke Konstantinopel. Menurut Procopius, dalam prosesi acara tersebut, harta-harta rampasan dari Kuil Yerusalem dibawa dalam parade (harta-harta Vandal, termasuk barang-barang yang dijarah dari Romawi 80 tahun sebelumnya, barang pusaka imperial, dan menorah dari Bait Kedua).

Barang-barang ini diambil dari ibukota Vandal. Gelimer pun dibawa ke Konstantinopel dan kemudian dikirim ke pengasingan. Medali-medali diukir sebagai pernghargaan kepadanya dengan dipahatkan Gloria Romanorum. Tidak ada satu pun medali yang bisa ditemukan di masa modern ini. Belisarius juga diangkat sebagai satu-satunya Konsul pada tahun 535. Ia adalah orang yang terakhir yang memegang jabatan yang berakar dari zaman Republik Romawi ini.

Namun demikian, direbut kembalinya Afrika belum tuntas; pemberontakan tentara dan warga asli Berber merongrong Prefektur Praetoria Afrika yang baru ini selama hampir 15 tahun.

Perang Melawan Ostrogoth


Perang Melawan Ostrogoth

Yustinianus benar-benar serius untuk merebut kembali wilayah Imperium Romawi Barat. Pada tahun 535, ia menunjuk Belisarius untuk menyerang Kerajaan Ostrogoth di Italia. Belisarius berlabuh di Sisilia dan menjadikan pulau tersebut sebagai basis operasi, sementara Mundus merebut Dalmasia. Persiapan invasi ke daratan Italia terhenti pada Paskah tahun 536. Belisarius harus berlayar menyeberang ke Afrika untuk menumpas pemberontakan tentara lokal. Reputasi Belisarius membuat pengepungan Kartago dihentikan oleh pemberontak. Belisarius mengejar mereka dan mengalahkannya di Membresa. Setelah itu, ia kembali ke Sisilia dan menyeberang ke daratan Italia, merebut Naples pada bulan November dan Roma pada bulan Desember 536.

Pada tahun 537 - 538, ia berhasil mempertahankan Roma dari serangan Goth dan terus bergerak ke utara merebut ibukota Ostrogoth, Ravenna, pada tahun 540. Witiges, Raja Goth, ditangkap. Sebelum merebut Ravenna, Ostrogoth menawarkan kepada Belisarius untuk menjadi kaisar Romawi Barat. Belisarius berpura-pura menerima tawaran dan memasuki Ravenna melalui satu-satunya jalan, sebuah jembatan di atas rawa. Ia masuk bersama seorang comitatus dari bucellarii, resimen andalannya. Langsung setelah itu, ia memproklamasikan bahwa direbutnya Ravenna adalah atas nama Kaisar Yustinianus.

Tawaran Goth kepada Belisarius menimbulkan kecurigaan dalam pikiran Yustinianus dan Belisarius ditarik kembali ke Konstantinopel. Ia pulang dengan membawa harta, raja, dan para prajurit Bangsa Goth.

Belisarius dipanggil kembali untuk mengatasi penaklukan Suriah oleh Persia, sebuah provinsi penting bagi imperium. Belisarius menjalankan tugasnya dan berhasil menahan serangan Persia Sassanid. Ia merebut Sisauranon, sebuah benteng kecil Persia. Keberadaan Belisarius di barat Sungai Eufrat berhasil mencegah Kaisar Khusro untuk menyerang lebih jauh dan Kaisar memutuskan untuk mundur. Belisarius dipuja-puja di timur atas keberhasilannya mengusir Persia.

Belisarius kembali ke Italia pada tahun 544 dan harus menghadapi situasi yang telah berubah drastis. Pada tahun 541, Ostrogoth memilih Totila sebagai pemimpin baru mereka dan melancarkan perang yang sengit pada Romawi, merebut kembali Italia utara dan bahkan mengusir Romawi dari Roma. Belisarius berhasil merebut Roma kembali, tetapi secara keseluruhan, perangnya di Italia tidak berhasil. Hal ini disebabkan terbatasnya suplai dan pasukan bantuan. Kemungkinan, Imperium Bizantin cukup menderita dengan wabah penyakit pada rentang tahun 541-542.

Pada tahun 548 atau 549, Yustinianus memberhentikan Belisarius. Tahun 551, setelah ekonomi pulih (dari efek wabah penyakit), Kasim Narses memimpin sebuah pasukan besar untuk menyelesaikan perang di Italia. Bagi Belisarius, karir militernya telah selesai. Dalam Konsili Konstantinopel Kedua (553), Belisarius menjadi utusan Kaisar menghadapi Paus Vigilius dalam perdebatan mereka tentang “Tiga Bab”. Uskup Agung Eutychius yang memimpin konsili ini sebagai wakil dari Paus Vigilius, merupakan anak seorang jenderal pasukan Belisarius.

Pencopotan Paus Silverius

Saat Pengepungan Roma berlangsung, sebuah insiden terjadi yang membuat Belisarius dicela. Belisarius yang merupakan penganut Kristen dengan Ritus Bizantin, diperintahkan oleh Permaisuri Theodora yang merupakan penganut Kristen Monofisit, untuk mencopot Paus yang menjabat saat itu. Paus ini dilantik oleh Kerajaan Goth. Paus ini bernama Silverius yang dulunya menjabat sub-diakon, anak dari Paus Hormisdas. Belisarius diperintahkan untuk menggantinya dengan Diakon Vigilius, Apocrisiarius dari Paus John II di Konstantinopel. Vigilius sebenarnya dipilih oleh Paus Boniface II untuk menjadi penggantinya pada tahun 531, tetapi pemilihan ini dikritisi keras oleh pendeta-pendeta Romawi sehingga Boniface membatalkan keputusannya.

Pada tahun 537, di puncak pengepungan, Silverius dituduh berkonspirasi dengan Raja Goth dan sejumlah senator Romawi untuk membuka gerbang-gerbang kota. Belisarius memaksanya melepas jabatan dan membuangnya ke Patara di Lycia, Asia Minor. Pembelaan yang dilakukan oleh Uskup Patara kepada Silverius membuat Kaisar Yustinianus memerintahkannya untuk kembali ke Italia dan jika terbukti tidak bersalah setelah inventigasi dilakukan, jabatannya akan dikembalikan. Namun, Vigilius telah ditunjuk sebagai Paus dan Silverius dihadang sebelum mencapai Roma. Ia diasingkan kembali, kali ini ke Palmarola (Ponza), di mana ia dikabarkan wafat karena kelaparan. Sampai saat ini, ia masih merupakan santo pelindung bagi Ponza.

Dalam insiden ini, Belisarius menulis sebuah pernyataan penyesalannya, yang tersimpan dalam Gereja Santa Maria in Trivio di Roma. Ia juga membangun dua penginapan bagi peziarah dan sebuah biara, keduanya tidak ada lagi saat ini. Gereja Santa Maria in Trivio berada di sekitar pojok air mancur Trevi; sebuah prasasti dari Abad ke-12 merupakan satu-satunya peninggalan sang jenderal besar.

Bagian Terakhir Kehidupan dan Ekspedisinya

Bagian Terakhir Kehidupan dan Ekspedisinya

Pensiunnya Belisarius berakhir pada tahun 559 ketika sebuah pasukan Bulgaria Kutrigur yang dipimpin oleh Khan Zabergan menyeberangi Sungai Danube untuk menyerbu wilayah Romawi untuk pertama kalinya dan mengancam Konstantinopel secara langsung. Yustinianus memanggil kembali Belisarius untuk memimpin pasukan Romawi. Dalam perangnya yang terakhir ini, Belisarius mengalahkan Kutrigur dan memukul mereka mundur kembali ke seberang sungai. Belisarius hanya membawa pasukan dalam jumlah yang jauh lebih kecil daripada musuhnya.

Pada tahun 562, Belisarius disidang di Konstantinopel dengan tuduhan korupsi. Tuduhan ini diduga dibuat-buat, dan penelitian modern memperkirakan bahwa bekas sekretarisnya, yaitu Procopius dari Caesarea, adalah orang yang mengadilinya.[sumber kutipan belum ada] Belisarius didakwa bersalah dan dipenjara. Namun, tidak lama, Yustinianus mengampuninya, memerintahkan pembebasannya, dan mengembalikan nama baiknya dalam kekaisaran.

Dalam lima bab pertama buku Secret History tulisan Procopius, ia menggambarkan karakter Belisarius sebagai seorang suami dengan istri yang tidak setia. Ia digambarkan sangat tergantung kepada istrinya yang amoral, Antonina. Menurut sejarawan, Antonina berselingkuh dengan anak angkat mereka, Theodosius yang masih muda. Procopius menyatakan bahwa perselingkungan ini sudah diketahui oleh semua orang di istana dan Belisarius dianggap lemah dan konyol; pandangan ini sering dinilai tidak adil karena Procopius menyimpan kebencian sejak lama kepada Belisarius dan Antonina. Permaisuri Theodora dicatat menolong dan membela Antonina ketika Belisarius menggugat istrinya.

Belisarius dan Yustinianus, yang dengan kerja samanya memperluas wilayah imperium sebesar 45%, meninggal dalam waktu berdekatan pada tahu 565. Belisarius memiliki tanah di Rufinianae, yaitu di bagian Asia pusat kota Konstantinopel. Kemungkinan, ia wafat di sana dan dimakamkan di dekat salah satu gereja yang ada di daerah tersebut, kemungkinan Gereja Santo Petrus dan Paulus.

Legenda Dirinya sebagai Pengemis Buta

Legenda Dirinya sebagai Pengemis Buta

Menurut sebuah cerita yang populer di Abad Pertengahan, Yustinianus dikabarkan memerintahkan agar mata Belisarius dicongkel dan menurunkan statusnya sebagai pengemis yang menetap di Gerbang Pincian, Roma. Ia diperintahkan untuk meminta-minta kepada orang yang lalu lalang, "Berilah sekeping obolus pada Belisarius," (date obolum Belisario), sampai akhirnya ia diampuni oleh kaisar. Kebanyakan sejarawan modern menganggap cerita ini sebagai suatu yang dibuat-buat. Meskipun demikian, Philip Stanhope, seorang ahli bahasa dari Britania abad ke-19, percaya bahwa cerita ini benar. Ia adalah penulis buku Life of Belisarius, satu-satunya buku biografi paling lengkap tentang jenderal besar ini. Dengan menguraikan bahasa dari sejumlah sumber, Stanhope membuat argumen tentang autentisitas legenda ini.

Meskipun asal-muasal dari legenda ini tidak jelas, legenda ini menjadi populer bagi para pelukis dan penggemarnya pada akhir abab ke-18 setelah terbitnya novel Bélisaire karya Jean-François Marmontel (1767). Mereka menilai adanya kesamaan antara keputusan Yustinianus dan kebijakan represif penguasa ketika itu. Akibat kandungan tersebut, novel karya Marmontel dikecam secara terbuka oleh Louis Legrand dari Sorbonne karena karyanya itu dianggap kependetaan di masa tersebut sebagai sebuah contoh eksposisi tentang kritik terhadap (Catholic Encyclopedia: “Louis Legrand”). Marmontel, para pelukis, dan para pematung menggambarkan Belisarius sebagai seorang suci yang sekuler, yang merasakan penderitaan para fakir miskin. Sebuah patung Belisarius karya pematung Prancis Jean-Baptiste Stouf dapat dilihat di Museum J. Paul Getty.

Lukisan yang paling terkenal adalah karya Jacques-Louis David, mengombinasikan tema kedermawanan (sang pemberi sedekah), ketidakadilan (Belisarius), dan bergilirnya kekuatan secara radikal (bekas prajurit yang mengenali bekas komandannya itu). Pelukis lain menggambarkannya sedang ditolong oleh orang miskin setelah ia diusir oleh penguasa.

Dalam Kesenian dan Budaya Populer

Belisarius ditampilkan dalam sejumlah kesenian sebelum abad ke-20. Karya yang tertua adalah tulisan yang membahas mendalam tentang dirinya yang ditulis oleh sekretarisnya, Procopius.Anecdota, atau biasanya disebut sebagai Arcana Historia atau Sejarah Rahasia, adalah karya yang lebih jauh mengecam Belisarius dan Antonina, juga kepada Yustinianus dan Theodora, menuduh Belisarius sebagai orang bodoh yang cinta buta dan istrinya sebagai perempuan yang tidak setia dan peselingkuh. Karya-karya lainnya adalah

Belisarius sebagai seorang Tokoh Drama


  • Belasarius – sebuah drama oleh Jakob Bidermann (1607)
  • Kehidupan dan sejarah Belisarius, yang telah Menaklukan Afrika dan Italia, dengan Sejumlah Catatan Aibnya, orang-orang Romawi yang tidak tahu berterima kasih, dan sebuah kemiripan antara ia dan Pahlawan modern – sebuah drama oleh John Oldmixon (1713)
  • Belasarius – sebuah drama oleh William Philips [sumber kutipan belum ada] (1724)

Belisarius Dalam Sastra


  • Bélisaire – sebuah novel karya Jean-François Marmontel (1767)
  • Belisarius: Sebuah Tragedi – karya Margaretta Faugères (1795). Meskipun ia menulisnya sebagai drama, Faugères “menghendaki [karya ini] untuk di kamar,” maksudnya untuk dibaca dan bukan untuk ditampilkan. Pembukaan dari karya ini menyuarakan keluhannya tentang “kutukan” dan retorika panjang dalam drama tragis popular, yang ia nilai membuat pembaca bosan, atau bahkan marah. Ia juga mengumumkan maksudnya untuk ”menggantinya dengan naratif ringkas dan sederhana.” Plot dan pengembangan karakter dari drama ini bukan yang Utama. Fokus drama ini adalah menceritakan konflik moral, terutama dalam balas dendam dan rasa belas kasihan, yang masing-masing dihubungkan dengan harga diri dan rasa malu.
  • Beliar – puisi abad ke-18 karya Friedriech de la Motte Fouque.
  • Ein Kampf um Rom – sebuah novel historis karya Felix Dahn (1867)
  • Belisarius – puisi abad ke-19 karya Henry Wadsworth Longfellow.
  • Count Belisarius – sebuah novel karya Robert Graves (1938); ditulis dengan sudut pandang Kasim Eugenius, pembantu istri Belisarius, namun sebenarnya didasarkan dari sejarah tulisan Procopius. Buku ini menggambarkan Belisarius sebagai seorang yang bersih dan berhati mulia di tengah dunia yang rusak. Novel ini tidak hanya menggambarkan dengan jelas keberhasilannya di bidang militer, tetapi juga menggambarkan tokoh-tokoh dan kejadian di masa tersebut dengan penuh warna, seperti misalnya politik kotor Hippodrome dalam balap kereta perang Konstantinopel, yang sering kali berakhir dengan kericuhan antar pendukung tim yang bertanding, serta intrik-intrik kehidupan Kaisar Yustinianus dan Permaisuri Theodora.
  • Lest Darkness Fall – sebuah novel sejarah alternatif karya L. Sprague de Camp (1939). Belisarius pada awalnya muncul sebagai Romawi yang memerangi tokoh utama yang bernama Martin Padway. Martin dari masa modern tanpa sengaja terpental ke masa lalu di Italia yang dikuasai Bangsa Goth. Ia mencoba untuk menyebarkan ilmu-ilmu modern di sana. Pada akhirnya, Belisarius menjadi jenderal bagi pasukan Padway dan merebut Italia untuknya.
  • Tokoh "Bel Riose" dalam novel Foundation and Empire oleh Isaac Asimov didasarkan kepada Belisarius (1952).
  • A Flame in Byzantium – sebuah novel horor-fiksi-historis karya Chelsea Quinn Yarbro (1987)
  • Seri Belisarius – enam volume novel fiksi ilmiah karya Eric Flint dan David Drake. Novel ini menceritakan sebuah sejarah alternatif tentang apa yang bisa terjadi seandainya Belisarius dan seorang rivalnya dianugrahi pengetahuan tentang kejadian dan teknologi dari masa depan. Empat volume pertama tersedia dalam ebook dari Baen Free Library. Keenam-enamnya tersedia di dalam website The Fifth Imperium.
  • Belisarius: The First Shall Be Last (2006) dan Belisarius: Glory of the Romans – dua novel karya Paolo Belzoni
  • Opera
  • Belisario – tragedia lirica oleh Gaetano Donizetti, libretto oleh Salvatore Cammarano, diambil dari adaptasi Luigi Marchionni pada Belisarius karya Eduard von Schenl (1820), scenography oleh Fransesco Bagnara, ditampilkan untuk pertama kali di Stagione di Carnevale, 4 Februari 1836, Venezia, Teatro La Fenice.



Daftar Istilah Penting

Balap Kereta Kuda Romawi
Balap kereta perang khas Romawi yang biasa dilakukan di dalam circus (Romawi) atau hippodrome (Bizantin), sebuah stadion dengan landasan balap di tengahnya. Di masa Bizantin, balapan paling bergengsi diselenggarakan di Konstantinopel secara rutin. Di masa Belisarius, balapan ini dikelola oleh kekaisaran secara langsung dan terkadang membawa-bawa aspek politik istana. Empat tim berkompetisi di dalam balapan: Tim Biru, Tim Merah, Tim Hijau, dan Tim Putih, masing-masing pendukung yang menonton akan memakai warna tim mereka masing-masing, dan Kaisar Yustinianus adalah pendukung Tim Biru. Tidak jarang balapan ini berakhir dengan kericuhan antar pendukung dan puncaknya adalah Kerusuhan Nika tahun 562 yang hampir membahayakan kekuasaan Kaisar Yustinianus sendiri. Balapan ini dihentikan sejak dihancurkannya Hippodrome Konstantinopel dalam Penjarahan Konstantinopel yang dilakukan oleh Pasukan Salib Keempat tahun 1204.

Bizantin
Imperium superpowerlanjutan dari Romawi, sering juga dikenal sebagai Imperium Romawi Timur. Bizantin beribukota di Konstantinopel (Istanbul Modern) dan menjadi satu-satunya penerus Romawi sejak dihancurkannya Imperium Romawi Barat (beribukota di Roma) pada Abad ke-4. Warga negaranya menganggap mereka adalah warga Romawi sehingga warga negara lain memanggil mereka orang-orang Romawi.

Bucellarii
Bentuk jamak dari Buccellarius (Bahasa Latin), yaitu Pasukan Romawi dan Bizantin yang tidak diorganisasi oleh negara, tetapi diorganisasi oleh individu yang kaya dan berpengaruh, seperti jenderal atau gubernur. Belisarius sendiri memiliki sekitar 7.000 buccellarii.

Goth
Bangsa Goth adalah salah satu ras Jerman bagian timur yang awalnya diperkirakan berasal dari Skandinavia, yang kemudian pecah menjadi Visigoth dan Ostrogoth ketika mereka menyebar lebih jauh ke penjuru Eropa. Bangsa ini memainkan peranan penting dalam jatuhnya Imperium Romawi Barat dan bangkitnya Eropa gaya Abad Pertengahan. Pada awalnya, mereka adalah bangsa pagan sampai mereka menjadikan Kristen Arian sebagai agama bangsa mereka. Dalam perkembangannya, Visigoth di Spanyol menjadi Katolik.

Hippodrome Konstantinopel
Sebuah stadion balapan paling terkenal di Konstantinopel, bisa dikategorikan sebagai circus atau stadion balapan khas Romawi. Ukurannya sedikit lebih kecil dibanding Circus Maximus di Roma: panjang 450 m dan lebar 130 m, mampu menampung 100.000 penonton. Di masa Bizantin, Hippodrome menjadi pusat kegiatan hiburan dan sosial masyarakat Konstantinopel.

Imperium
Sebuah negara yang terdiri atas sekelompok bangsa, memiliki sebuah wilayah geografi yang luas, dipimpin oleh seorang kaisar atau sekelompok elit.

Katafrak
Pasukan berkuda dengan baju baja lengkap, baik prajurit maupun kudanya. Katafrak telah digunakan oleh sejumlah bangsa: Scythia, Sarmatia, Parthia, Persia Achaemenid, Saka, Armenia, Seleukid, Pergamon, Persia Sassanid, Romawi, Goth, dan Bizantin Kemungkinan katafrak ini sangat mempengaruhi gaya pasukan knight atau ksatria Eropa beberapa abad setelahnya.

Kavaleri
Secara harfiah berarti pasukan berkuda, namun dalam prakteknya di masa kuno, unta dan gajah juga digunakan. Dalam peperangan modern, pasukan berkendara lapis baja maupun bukan juga termasuk dalam kavaleri.

Konsul
Konsul adalah jabatan tertinggi eksekutif dalam Republik Romawi bagi orang yang terpilih oleh Senat, biasanya dua orang untuk mencegah berkumpulnya kekuasaan yang terlalu besar pada satu orang. Di masa Kekaisaran Romawi, kaisar menunjuk siapa yang ia kehendaki menjadi Konsul, dengan atau tanpa pertimbangan Senat. Belisarius adalah orang Romawi terakhir yang menjabat sebagai Konsul Romawi. Jabatan konsul digunakan kembali oleh Napoleon ketika ia memimpin eksekutif Republik Prancis. Di masa sekarang, konsul berubah makna menjadi diplomat.

Kristen Arian
Ajaran Kristen yang disampaikan oleh Arius (250-336) dari Iskandariyah yang menolak trinitas. Konsep mereka adalah bahwa Yesus sebagai Anak Tuhan adalah makhluk, yang pada awalnya tidak ada, kemudian ada setelah diciptakan. Sedangkan Roh Kudus adalah seseorang atau malaikat dengan posisi tinggi yang juga mempunyai awal sebagai makhluk. Mereka dianggap sesat dan murtad dalam dua Konsili Ekumenis yang paling awal dalam Gereja Romawi: Konsili Nikea I (325) dan Konsili Konstantinopel I (381).

Kristen Monofisit
Ajaran Kristen yang menolak hasil Konsili Chalcedon (451) dalam hal aspek ketuhanan dan aspek kemanusiaan dari Yesus. Dalam perkembangannya, ajaran ini menjadi lebih moderat dan disebut sebagai Miafisit, dan sampai sekarang masih bertahan dalam ajaran Kristen Ortodoks Oriental: Ethiopia, Eritrea, Koptik, Armenia, Suriah, dan Malankara.

Kristen Nikea
Kaum Kristen yang menerima hasil dari Konsili Nikea I tahun 325. Mayoritas Kristen di masa modern termasuk dalam golongan ini, begitu juga Kristen Monofisit/Miafisit.

Magister Militum
Jajaran pangkat militer tinggi dalam Imperium Romawi sejak masa Kaisar Konstantin, di bagi di setiap daerah. Bisa disebandingkan dalam jabatan Panglima Komando Daerah Militer (Kodam) dalam TNI.

Persia-Sassanid
Imperium superpowerdi Asia Barat pada Abad ke-4 sampai Abad ke-7, juga disebut oleh warga negaranya sendiri sebagai Ērānshahr atau Ērān, berdiri tahun 224 dan diruntuhkan oleh Kekhalifahan Islam pada tahun 651. Posisinya yang bertetangga dengan Romawi selalu melahirkan kompetisi berdarah dalam merebut hegemoni di Armenia, bulan sabit subur, dan Asia Minor.

Vandal
Bangsa Vandal, seperti halnya Bangsa Goth, adalah salah satu ras Jerman bagian timur yang diperkirakan berasal dari Skandinavia. Sempat lama tinggal di selatan Polandia, kemudian bermigrasi ke Gaul, Spanyol, dan akhirnya mendirikan kerajaan di Afrika Utara. Saat berada di Afrika Utara, mereka telah memeluk Kristen Arian

0 Response to "BELISARIUS THE LAST ROMAN GENERAL STORIES"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel