Kedaulatan Budaya Ala Bung Karno

Kedaulatan Budaya Ala Bung Karno

Kedaulatan Budaya Ala Bung Karno

Dalam tiga tahun belakangan ini, Korea semakin dikenal dunia. Bukan karena ketangguhan industri atau kekuatan ekonominya, negeri ginseng itu semakin berkibar justru karena ekspansi budaya popnya yang makin hari makin agresif saja. Budaya K-Pop, baik itu musik, ilm, fashion atau makanan khasnya ternyata muncul sebagai sebuah senjata baru bagi Korea untuk bersinar di tengah-tengah bangsa lain di dunia. Melihat begitu agresifnya budaya K-Pop mengagresi seluruh dunia, tak salah jika kemudian muncul anggapan bahwa budaya dari negeri Asia Timur itu mulai mengancam kebudayaan nasional Indonesia. Ketakutan bahwa budaya nasional menjadi semakin terancam ternyata bukan hal yang baru. Pada medio 1950-an, Bung Karno sudah menggemakan kesadaran untuk berdaulat di bidang kebudayaan.



Budaya dan Politik


Sebagai seorang Presiden yang dikenal sangat nasionalis, Bung Karno pernah melakukan sebuah langkah berani, yakni menggunakan kebudayaan sebagai sebuah sarana memperkuat semangat kebangsaan. Tidak hanya itu, dalam masa kepemipinan beliau, terjadi sebuah persetubuhan yang unik antara budaya dan politik. Hal ini bisa dilihat dari lirik-lirik lagu populer di masa itu, yang selain menyiratkan pesan-pesan politis, juga memiliki ritme yang rancak khas lagu-lagu mars ketentaraan.

Padahal pada awal tahun 1950- an, di Indonesia mulai dikenal invasi musik pop dan Hawaian style yang lebih condong pada budaya hedonisme. Pada masa itu pula mulai menjamur festival-festival musik pop yang digandrungi anak muda. Salah satu festival musik pop yang cukup populer pada saat itu adalah pemilihan bintang radio yang diadakan oleh RRI. Pada medio 1960-an, musik rock n roll ala Beatles mulai menghipnotis kaum muda Indonesia. Lagu-lagu dari band asal Liverpool, Inggris itu semakin digilai setelah muncul sebuah band lokal tetapi dengan nuansa Beatles yang kuat, Koes Ploes.

Walau merupakan grup musim lokal, tetapi mereka secara konsisten memainkan musik-musik British rock yang langsung mendapat sambutan luar biasa. Bukan hanya lagu-lagunya, dandanan mereka juga menjadi trend setter dan standar bagi kaum muda pada jaman itu untuk bisa disebut Ȋtrendyȋ. luas dan semakin Ȇmembahayakanȇ, maka pada tanggal 22 November 1964, Bung Karno membentuk tim yang beranggotakan antara lain Oe Tjoe Tat dan Adam Malik, untuk mengkonsepkan sebuah formula agar rakyat Indonesia kembali kepada kepribadian dan kebudayaan nasionalnya.

Budaya dan Politik

Alhasil, setelah itu banyak pencekalan dan peringatan yang diberikan kepada para artis yang dianggap telah terjangkiti virus budaya barat. Beberapa artis yang pernah mengalaminya antara lain Ermi Johan dan Lilis Suryani yang diminta mengubah cara berpakaian serta lagu-lagunya agar lebih Indonesia. Nama yang kedua bahkan akhirnya dikenal sebagai pelantun lagu-lagu bertema politis, seperti tembang berjudul Manipol-USDEK. Tidak hanya itu, pemerintah juga menghimbau kepada para tukang pangkas rambut agar menolak para pelanggan yang meminta gaya rambut gondrong, atau poni ala The Beatles.

Tetapi ternyata, ada beberapa pihak yang merasa jengah dengan itu semua. Organisasi politik yang berailiasi dengan PKI serta pers-pers ultranasionalis mengecam gaya musik anak-anak Koes Plus tersebut. Bahkan Bung Karno sendiri menyebut musik tersebut dengan nama musik Ȋngak ngik ngokȋ. Pada tahun 1963, dalam berbagai kesempatan Bung Karno mengecam secara terang-terangan musik ngak ngik ngok yang dianggap tidak nasionalis, mengajarkan kemalasan serta melemahkan mental generasi muda untuk tenggelam pada tema-tema yang remeh temeh seperti cinta dan pacaran.

Padahal menurut bapak Pancasila tersebut, mental generasi muda Indonesia harus senantiasa dipelihara agar menjadi kuat dan berkarakter untuk menghadapi ancaman neo-kolonialisme. Menyadari bahwa gejala musik ngak ngik ngok mulai digemari secara luas Tetapi ada saja yang kemudian membangkang terhadap peraturan ini, salah satunya adalah Koes Ploes. Band paling tenar di masanya tersebut tetap ngotot menyanyikan lagu-lagu The Beatles ataupun lagu-lagu mereka sendiri, yang tentunya juga sangat kental nuansa rock n roll ala Beatles ataupun Elvis Presley.

Walau sering diberi peringatan oleh Kejaksaan, tetapi band yang dimotori Tony Koeswoyo beserta saudara-saudaranya tersebut masih sering memainkan lagu lagu yang tidak sesuai dengan irama nasionalisme. Pada beberapa even, mereka bahkan terang-terangan membawakan lagu-lagu The Beatles. Pada 15 Maret 1965, Harian Bintang Timur mengangkat topik bahwa budaya barat harus segera dijebol. Serentak sejak itu, pers, terutama yang berailiasi dengan partai politik tertentu segera  untuk mengangkat isu-isu mengenai kontroversi budaya rock n roll.

Sedang Harian Warta Bhakti mengangkat suatu artikel yang berisi desakan untuk melakukan penyelidikan mendalam terhadap fenomena musik ngak ngik ngok itu. Pada tahun 1965, RRI pun berhenti untuk memutar lagu-lagu The Beatles. Rakyatpun seakan juga turut larut dalam semangat untuk kembali kepada kepribadian nasional. Banyak organisasi pemuda dan mahasiswa yang akhirnya menjadi pelopor untuk menggemakan lagulagu pemacu semangat. Dua lagu paling terkenal masa itu, Manipol-USDEK dan Internasionale benar-benar menjadi standar musik yang boleh dinyanyikan.

Tetapi pada 24 Juni 1965 terjadi kehebohan. Di suatu rumah, Koes Ploes tampil dengan menyanyikan lagu-lagu terlarangnya. Alhasil pada saat itu juga, para pemuda di lingkungan itu membubarkan penampilan mereka. Akhirnya pada 29 Juni 1965, Koes Ploes diamankan untuk dimintai keterangan. Apa yang dilakukan Bung Karno, jika dilihat dari kaca mata masa kini, memang terdengar berlebihan. Tetapi bukan tanpa alasan sang proklamator melakukan hal itu. Sebagai sebuah negeri yang masih sangat muda, generasi mudanya harus selalu awas untuk terus mempertahankan kemerdekaannya, termasuk di bidang budaya.

Generasi muda di masa Bung Karno pun dikenal sebagai generasi pelopor yang sukses mengawal kedaulatan Republik serta membuat nama Indonesia bersinar. Sayang, setelah Bung Karno dilengserkan, politik untuk melindungi kebudayaan dan kepribadian nasional menjadi berjalan tanpa arah. Bukti yang paling nyata, negeri ini baru meraung ketika wayang dan reog diklaim negara tetangga. Pemuda adalah pewaris peradaban. Butuh kesadaran untuk mencintai negaranya, rakyatnya dan budayanya. Jika generasi muda hanya disibukkan dengan kata-kata cinta serta budaya yang membuat jiwa melempem, jangan salahkan langit Indonesia jika tiba-tiba terdengar ejekan mental tempe yang membahana, menertawakan mereka yang asyik bersalon ria dan berhedonis ria. Merdeka.

Artikel lain yang menarik untuk dibaca : Kejayaan Timnas era orde lama

0 Response to "Kedaulatan Budaya Ala Bung Karno"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel