KHALID BIN WALID THE SWORD OF ALLAH

https://www.jasmerah.me/2018/11/khalid-bin-walid-sword-of-allah.html

KHALID BIN WALID THE SWORD OF ALLAH.Khālid ibn al-Walīd (Bahasa Arab: خالد بن الوليد‎; 592–642) juga dikenal sebagai Sayfullāh Al-Maslūl (Pedang Allah yang Terhunus), adalah seorang sahabat Muhammad, Nabi Islam. Ia terkenal karena kecakapan dan taktik militernya, menjadi komandan pasukan Madinah di bawah kepemimpinan Muhammad dan pasukan-pasukan penerusnya, Kekhalifahan Ar-Rasyidun; Abu Bakr dan Umar ibn Khattab. Di bawah kepemimpinan militernya, Arab bersatu di bawah sebuah entitas politik untuk pertama kali dalam sejarah, Kekhalifahan. Ia memenangkan lebih dari seratus pertempuran, melawan pasukan-pasukan Imperium (Kekaisaran) Romawi-Bizantin, Imperium (Kekisraan) Persia-Sassanid, dan sekutu-sekutu mereka, ditambah lagi beberapa suku Arab lainnya. Prestasi strategisnya antara lain penaklukan Arab, Mesopotamia milik Persia, dan Syam milik Romawi, dalam beberapa tahun sejak 632 sampai 636. Ia juga dikenang karena kemenangan pentingnya di Yamamah, Ullays, dan Firaz, serta kesuksesan taktisnya di Walaja dan Yarmuk.



Khalid ibn Al-Walid berasal dari Suku Quraysh dari Makkah, dari sebuah klan yang pada awalnya menentang Muhammad. Ia memainkan peran vital dalam kemenangan Makkah saat Pertempuran Uhud. Ia masuk Islam dan bergabung dengan Muhammad setelah Perjanjian Hudaybiyyah, serta berpartisipasi dalam sejumlah ekspedisi militer dengannya, seperti Pertempuran Mu’tah. Setelah wafatnya Muhammad, ia memainkan peran kunci dalam komando Pasukan Madinah pimpinan Abu Bakr pada Perang Ridda, menaklukkan Arab tengah dan menundukkan suku-suku Arab. Ia merebut Kerajaan Al-Hirah yang merupakan negara vasal Persia-Sassanid, dan mengalahkan pasukan-pasukan Persia-Sassanid selama proses penaklukan Iraq (Mesopotamia). Ia lalu ditransfer ke front pertempuran di barat untuk merebut Syam milik Romawi dan Kerajaan Ghassan, negara vasal Romawi. Meskipun Umar kemudian melepas jabatan Khalid dari komando tertinggi, ia tetaplah pimpinan sebenarnya dari kesatuan tempur melawan Bizantin selama fase-fase awal Perang Bizantin-Arab. Di bawah komandonya, Damaskus direbut tahun 634 dan kemenangan kunci Arab atas Bizantin diraih dalam Pertempuran Yarmuk (636), yang membuka jalan dalam proses penaklukan Syam (Levant). Tahun 638, pada puncak karirnya, ia diberhentikan dari ketentaraan.

Bagian Awal Kehidupan Khalid Bin Walid


Khalid dilahirkan sekitar tahun 592 di Makkah dengan Walid ibn Al-Mughira sebagai ayahnya, kepala Banu Makhzum, sebuah klan dari Suku Arab Quraysy. Khalid adalah saudara sepupu Umar. Ayahnya dikenal di Makkah dengan gelar Al-Wahid atau Yang Utama. Tiga klan tertinggi dalam Suku Quraysy saat itu adalah Banu Hasyim, Banu Abdud Dar, dan Banu Makhzum. Banu Makhzum bertanggung jawab dalam permasalahan peperangan. Segera setelah ia lahir, berdasarkan adat Quraysy, Khalid dikirim kepada sebuah suku Badui Arab di gurun, dimana seorang ibu susu akan merawat dan membesarkannya di udara gurun yang bersih, kering, dan tidak terpolusi. Di usianya yang keenam, ia kembali pada orang tuanya di Makkah. Di masa kecilnya, Khalid mendapat serangan cacar air ringan, namun cacar air itu meninggalkan beberapa bekas cacar di pipi kirinya.

Khalid dan Umar (radhi Allahu'anh), Khalifah kedua, adalah sepupu dan wajah mereka sangat mirip. Khalid dan Umar sama-sama berbadan tinggi, Khalid memiliki badan kekar dengan bahu yang lebar. Ia berjanggut tebal yang memenuhi wajahnya. Ia juga adalah salah seorang pegulat terhebat di masanya. Sebagai seorang anggota Klan Makhzum, yang memiliki spesialisasi dalam peperangan dan termasuk penunggang kuda terbaik di Arab, Khalid yang masih kecil dididik untuk berkuda dan menggunakan senjata-senjata seperti tombak, lembing, panah, dan pedang. Lembing dikatakan sebagai senjata favoritnya. Di masa mudanya, ia dikagumi sebagai prajurit dan pegulat masyhur di antara orang-orang Quraysy.


Era Nabi Muhammad SAW (610–632)


Tidak banyak yang diketahui tentang Khalid di masa awal dakwah Muhammad SAW. Ayahnya dikenal karena kebenciannya pada Muhammad SAW. Setelah hijrahnya Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah, banyak pertempuran terjadi antara komunitas baru Muslim di Madinah dengan konfederasi Quraysy. Khalid tidak berpartisipasi dalam Pertempuran Badr pertempuran pertama antara Muslim dan Quraysy tetapi saudara laki-lakinya, Walid ibn Walid, tertawan dalam pertempuran itu. Khalid dan kakaknya, Hisyam ibn Walid, pergi ke Madinah untuk menebus Walid, tetapi segera setelah ditebus, Walid, melarikan diri di tengah-tengah perjalanan pulang ke Madinah dan kembali pada Muhammad SAW. Walid masuk Islam.

Kepemimpinan Khalid memegang peran penting dalam membalikkan kondisi dan memastikan kemenangan Makkah dalam Pertempuran Uhud (625). Tahun 627 M, ia merupakan bagian dari operasi militer melawan Muslim, yang menjadi sebab terjadinya Pertempuran Parit, pertempuran Khalid yang terakhir melawan Muslim.

Masuk Islam

Perjanjian damai sepuluh tahun disepakati antara Muslim dan Quraysy Makkah dalam Perjanjian Hudaybiyyah tahun 628. Tercatat bahwa Muhammad SAW berkata pada saudara Khalid, Walid bin Walid, bahwa, “Seorang laki-laki seperti Khalid, tidak bisa terlalu jauh dari Islam untuk waktu yang lama.” Walid menulis surat kepada Khalid untuk mengajaknya pindah agama. Khalid merupakan seseorang yang tidak terlalu dalam kecintaannya pada berhala-berhala di Ka’bah. Ia memutuskan untuk masuk Islam dan dikatakan bahwa ia menyampaikan hal ini kepada teman sejak masa kecilnya, Ikrimah ibn Abi-Jahl. Ikrimah menentangnya. Khalid diancam oleh Abu Sufyan ibn Harb dengan konsekuensi yang berat, tetapi dihalangi oleh Ikrimah yang diberitakan telah berkata, “Tahan dulu, wahai Abu Sufyan! Kemarahanmu bisa saja membuatku juga bergabung dengan Muhammad SAW. Khalid bebas untuk mengikuti agama apapun yang ia pilih.” Pada bulan Mei 629, Khalid berangkat ke Madinah. Dalam perjalanannya, ia bertemu ‘Amr ibn Al-‘As dan Utsman ibn Talha, yang juga hendak ke Madinah untuk masuk Islam. Mereka tiba di Madinah pada tanggal 31 Mei 629 dan langsung pergi ke rumah Muhammad SAW. Khalid disambut oleh kakaknya Walid bin Walid. Khalid adalah yang pertama masuk Islam di antara ketiga orang tadi.

Pertempuran Mu’tah

Tiga bulan semenjak tibanya Khalid di Madinah, Muhammad SAW mengirim diplomat kepada pemimpin Ghassan di Syam, negara vasal Imperium Bizantin. Diplomat itu membawa surat yang isinya mengajak untuk masuk Islam. Ketika melewati Mu’tah, diplomat ini dihadang dan dibunuh oleh seorang pimpinan lokal Ghassan bernama Syurahbil ibn Amr. Dalam ketetapan internasional zaman itu (maupun zaman sekarang-pent), diplomat memiliki imunitas dari serangan. Berita tentang perlakuan ini menimbulkan kemarahan di Madinah.

Sebuah ekspedisi militer segera dipersiapkan untuk mengambil tindakan hukum pada Ghassan. Muhammad SAW menunjuk Zayd ibn Haritsah sebagai panglima pasukan. Jika Zaid gugur, komando akan diambil alih oleh Ja’far ibn Abi Talib, dan jika Ja’far gugur, komando akan diambil alih oleh ‘Abdullah ibn Rawahah. Jika ketiganya gugur, pasukan akan menunjuk seorang panglima di antara mereka sendiri.

Ketiga panglima gugur dalam pertempuran dan Khalid dipilih sebagai panglima. Ia berhasil mempertahankan pasukannya yang kalah jumlah, 3000 pasukan melawan pasukan besar Imperium Bizantin dan Arab Ghassan berjumlah 200.000 orang, dalam pertempuran yang dikenal sebagai Pertempuran Mu’tah. Khalid mengambil komando pasukan Muslim di saat krusial dan mengubah sebuah pembantaian besar-besaran menjadi sebuah strategi mundur dan menyelamatkan pasukan Muslim dari kehancuran total.

Di malam hari, Khalid mengirim beberapa kolom pasukan ke belakang pasukan utama, dan di pagi esoknya sebelum pertempuran dimulai, mereka diinstruksikan untuk bergabung dengan pasukan utama Muslim dalam kelompok-kelompok kecil, yang datang satu demi satu, memberikan kesan adanya bala bantuan pasukan baru, sehingga menurunkan semangat musuh. Khalid entah bagaimana menstabilisasikan barisan pertempuran untuk hari itu, dan di malam hari, pasukannya mundur kembali ke Arab. Karena mengira ada sebuah jebakan yang menunggu mereka, pasukan Bizantin tidak mengejar. Khalid dikatakan bertarung dengan gagah berani dalam Pertempuran Mu’tah dan mematahkan sembilan pedangnya dalam pertempuran tersebut. Setelah Pertempuran Mu’tah, Khalid diberi gelar Pedang Allah karena membawa pulang pasukannya untuk bertempur di hari lainnya.Gelar Pedang Allah diberikan oleh Muhammad SAW, sehingga ia dikenal secara luas dengan julukan ini setelah Pertempuran Mu’tah.

Operasi Militer Berikutnya


Setahun kemudian, tahun 630 M, Muslim keluar dari Madinah untuk menaklukkan Makkah. Dalam Penaklukan Makkah, Khalid mengomando salah satu dari empat pasukan Muslim yang memasuki Makkah dari empat rute berbeda, dan ia berhasil memukul mundur kavaleri Quraysy. Akhir tahun yang sama, ia berpartisipasi dalam Pertempuran Hunayn dan Pengepungan Ta’if.Ia ikut serta dalam Operasi Militer Tabuk dibawah pimpinan langsung Muhammad SAW, dan dari sana, ia dikirim ke Daumatul Jandal dimana ia bertempur dan menawan Pangeran Arab dari Daumatul Jandal, memaksa Daumatul Jandal untuk tunduk.

Tahun 631 M, ia berpartisipasi dalam haji perpisahan Muhammad SAW. Di saat haji ini, ia dikatakan mengumpulkan sejumlah rambut Muhammad, sebagai peninggalan yang ia gunakan untuk memotivasi dirinya untuk memenangkan berbagai pertempuran.

Operasi Militer sebagai Komandan


Pada bulan Januari 630 M, 8 H, bulan kesembilan penanggalan Islam, Khalid ibn Al-Walid dikirim untuk menghancurkan berhala Dewi Al-Uzza yang disembah oleh kaum musyrik. Ia melakukannya dan berhasil, dan seorang wanita Ethiopia, yang diklaim oleh Muhammad SAW sebagai Al-Uzza yang sebenarnya, juga dibunuh.

Khalid ibn Al-Walid juga dikirim untuk mengajak suku Banu Jadzimah untuk masuk Islam. Mereka menerima ajakan tersebut, tetapi Khalid menawan mereka semua dan tetap mengeksekusi mati sebagian anggota suku tersebut (sebelum ia dihentikan), karena perseteruan masa lalu.
Muhammad SAW juga mengirim Khalid dalam sebuah operasi militer Daumatul Jandal, untuk menyerang Pangeran Kristen bernama Ukaydir yang tinggal di sebuah kastil. Kejadian ini terjadi pada bulan Maret 631 M, 9 H, bulan kesebelas penanggalan Islam. Dalam operasi ini, Khalid menawan Pangeran dan mengancam akan membunuhnya sampai gerbang kastil dibuka. Muhammad SAW kemudian mengambil tebusan untuk membebaskannya. Tebusannya berupa 2000 unta, 800 domba, 400 baju besi, dan 400 lembing, termasuk juga persyaratan kewajiban membayar Jizyah.

Pada bulan April 631 M, Muhammad SAW mengirim Khalid kembali dalam sebuah operasi militer kedua ke Daumatul Jandal untuk menghancurkan berhala pagan yang disebut Wadd. Khalid menghancurkan patung beserta kuil dan membunuh siapapun yang memberi perlawanan.

Era Abu Bakr (632-634) Penaklukan Arabia

Era Abu Bakr (632-634) Penaklukan Arabia

Setelah wafatnya Muhammad, banyak suku-suku Arab yang melepaskan diri, memberontak melawan pemerintahan Madinah. Khalifah Abu Bakr mengirimkan pasukannya untuk menumpas pemberontak dan kaum murtad.Khalid adalah salah satu penasehat utama Abu Bakr dan seorang arsitek perencanaan strategis dalam Perang Ridda. Ia diberikan kekuasaan komando pada pasukan terkuat Muslim dan dikirim ke Arab Tengah, area paling strategis di mana kebanyakan suku-suku pemberontak berada. Daerah ini juga paling dekat dengan pusat kekuatan Muslim di Madinah dan merupakan ancaman terbesar bagi kota itu. Khalid pertama-tama berangkat menuju suku pemberontak Tayy dan Jalida, di mana Adi ibn Hatim, seorang sahabat Muhammad yang utama sekaligus kepala suku Tayy bernegosiasi, dan suku-suku itu pun kembali tunduk pada Kekhalifahan.

Pada pertengahan September 632 M, Khalid mengalahkan Tulayha, seorang pimpinan utama pemberontak. Tulayha mengklaim dirinya nabi sebagai alat untuk menarik dukungan untuk dirinya sendiri. Kekuatan Tulayha dihancurkan setelah pengikutnya dikalahkan dalam Pertempuran Ghamra.Khalid kemudian bergerak menuju Naqra dan mengalahkan suku pemberontak Banu Salim dalam Pertempuran Naqra. Daerah ini kemudian diamankan setelah pada Pertempuran Zafar di bulan Oktober 632, pasukan yang dipimpin wanita pemimpin suku pemberontak, Salma, berhasil dikalahkan.

Saat daerah sekitar Madinah, ibukota Islam, berhasil direbut kembali, Khalid memasuki Nejd, daerah pertahanan suku Banu Tamim. Banyak klan bergegas menemui Khalid dan kembali tunduk pada pemerintahan Kekhalifahan. Tetapi suku Banu Yarbu’, di bawah pimpinan Syaikh Malik ibn Nuwayrah, tidak melakukan hal yang sama seperti apa yang dilakukan suku lainnya. Malik menghindari kontak langsung dengan pasukan Khalid dan Malik memerintahkan pengikutnya untuk menyebar. Ia dan keluarganya kemudian pindah menjauh menyeberangi gurun. Ia juga mengumpulkan pajak dan mengirimnya ke Madinah. Meskipun demikian, Malik dituduh memberontak melawan Madinah dan bergabung dengan aliansi anti Kekhalifahan di bawah pimpinan Sajjah, seorang perempuan yang mengklaim dirinya Nabiyah. Malik kemudian ditangkap bersama sejumlah anggota sukunya, dan diinterogasi oleh Khalid tentang kejahatannya. Setelah mendengar respon Malik, “Tuanmu berkata begini, tuanmu berkata begitu” dengan mengacu pada Abu Bakr, Khalid menyatakan bahwa Malik tergolong kaum murtad pemberontak dan memerintahkan eksekusi mati.

Abu Qatada Ansari, seorang sahabat Muhammad yang menemani Khalid dari Madinah, sangat terkejut dengan keputusan tersebut sampai-sampai ia segera pulang ke Madinah dan melaporkan kepada Abu Bakr bahwa ia menolak untuk dipimpin oleh seorang komandan yang telah membunuh Muslim. Kematian Malik dan tindakan Khalid menikahi istri Malik, Layla, menciptakan kontroversi. Beberapa komandan bawahan-termasuk Abu Qatadah- menganggap Khalid membunuh Malik untuk menikahi istrinya. Setelah adanya tekanan oleh Umar-sepupu Khalid dan salah satu penasehat utama Abu Bakr-, Abu Bakr memanggil Khalid ke Madinah untuk menjelaskan perkara ini. Meskipun Khalid telah memutuskan bahwa Malik seorang yang murtad, ‘Umar berkata pada Khalid, “Kau musuh Allah! Kau membunuh seorang Muslim dan kemudian mengambil istrinya. Demi Allah, aku akan merajammu.”

Setelah insiden tentang Malik terselesaikan, Abu Bakr kembali mengirim Khalid untuk menghancurkan ancaman paling besar terhadap Negara Islam Madinah yang baru lahir: Musaylimah, seorang nabi palsu yang telah mengalahkan dua pasukan Muslim. Pada pekan ketiga bulan Desember 632, Khalid memenangkan Pertempuran Yamamah, sebuah kemenangan penting melawan Musaylimah. Musaylimah tewas dalam pertempuran dan hampir semua kekuatan suku-suku pemberontak menyerah.

Invasi ke Imperium Persia

Invasi ke Imperium Persia

Dengan redanya pemberontakan dan Arabia bersatu kembali dalam otoritas sentral Khalifah di Madinah, Abu Bakr memutuskan untuk memperluas imperiumnya. Tidak terlalu jelas apa tujuan awalnya, apakah berupa sebuah rencana skala besar untuk ekspansi atau serangan untuk mengamankan lebih banyak teritori dan menciptakan zona penyangga antara negara Islam dengan Imperium Sassanid dan Bizantin yang berkekuatan besar. Khalid dikirim ke Imperium Persia memimpin pasukan yang terdiri dari 18.000 pasukan sukarela untuk menaklukkan provinsi terkaya Imperium Persia, yaitu daerah Eufrat di Mesopotamia Bawah (Iraq modern). Khalid memasuki Mesopotamia Bawah dengan pasukan ini.

Ia memenangkan kemenangan-kemenangan cepat dalam lima pertempuran yang berurutan: Pertempuran Rantai, April 633; Pertempuran Sungai, pekan ketiga April 633; Pertempuran Walaja, Mei 633 (dimana ia berhasil menggunakan sebuah manuver double envelope), dan Pertempuran Ullays, pertengahan Mei 633. Di pekan terakhir Mei 633, Al-Hirah, ibukota daerah Mesopotamia Bawah, jatuh ke tangan Khalid. Warganya diberikan kebebasan dengan syarat memberikan pembayaran jizyah tahunan dan menyediakan mata-mata untuk Muslim. Setelah mengistirahatkan pasukannya, pada bulan Juni 633, Khalid mengepung Anbar yang meskipun melawan dengan keras, jatuh pada bulan Juli 633. Khalid bergerak ke selatan dan merebut ‘Ainul Tamr pada pekan terakhir Juli 633.

Di saat itu, hampir semua Mesopotamia Bawah (daerah utara Eufrat) berada dalam kontrol Khalid. Saat itu, Khalid menerima permintaan bantuan dari utara Arabia di Daumatul Jandal, dimana seorang jenderal Muslim lainnya, Ayaz bin Ghanam, dikepung oleh suku-suku pemberontak. Pada bulan Agustus 633, Khalid pergi ke Daumatul Jandal dan mengalahkan pemberontak dalam Pertempuran Daumatul Jandal, merebut benteng kota. Dalam perjalanan kembali ke Mesopotamia, Khalid dikabarkan melakukan perjalanan rahasia ke Makkah untuk berhaji.

Sekembalinya dari Arabia, Khalid menerima laporan mata-mata bahwa ada konsentrasi pasukan Persia dan bantuan Arab Kristen yang cukup besar jumlahnya. Pasukan-pasukan ini terpencar di empat perkemahan terpisah di daerah Eufrat: Hanafiz, Zumayl, Saniyy, dan yang terbesar berada di Muzayyah. Khalid menghindari pertempuran besar dengan pasukan-pasukan tersebut. Ia memutuskan untuk menyerang dan menghancurkan setiap perkemahan dalam sebuah serangan malam dari tiga arah. Ia membagi pasukannya dalam tiga kesatuan dan menyerang pasukan Persia dalam sebuah serbuan terkoordinasi dari tiga arah berbeda di malam hari, dimulai dari Pertempuran Muzayyah, kemudian Pertempuran Saniyy, dan terakhir Pertempuran Zumayl, semuanya pada November 633 M.

Kemenangan beruntun Muslim membatasi usaha Persia untuk merebut kembali Mesopotamia Bawah dan meninggalkan Ibukota Persia, yaitu Ctesiphon, tidak terjaga dan rentan terhadap serangan Muslim. Sebelum menyerbu ibukota Persia, Khalid memutuskan untuk mengenyahkan semua pasukan Persia di selatan dan barat, dan dengan demikian bergerak ke kota perbatasan, Firaz, dimana ia mengalahkan sebuah pasukan sekutu: Persia Sassanid, Bizantin Romawi, dan Arab Kristen, serta merebut benteng kota dalam Pertempuran Firaz pada bulan Desember 633.[53] Pertempuran ini adalah pertempuran terakhirnya dalam penaklukan Mesopotamia Bawah. Ketika Khalid dalam perjalanan menyerbu Qadissiyah, sebuah kota kunci di jalan menuju Ctesiphon, ia menerima surat dari Abu Bakr dan ia dikirim ke front pertempuran melawan Bizantin di Syam. Ia diperintahkan untuk mengambil alih komando pasukan Muslim dengan tujuan menaklukkan Syam milik Romawi. Selama keberadaannya di Iraq, Khalid juga diangkat sebagai gubernur militer untuk daerah taklukan.

Invasi ke Imperium Romawi Timur

Invasi ke Imperium Romawi Timur

Setelah keberhasilan dalam invasi terhadap Iraq, provinsi dari Persia Sassanid, Khalifah Abu Bakr mengirim ekspedisi militer untuk merebut Levant (Syam) milik Romawi. Invasi ini dilaksanakan oleh empat korp, masing-masing dengan target berbeda. Bizantin merespon ancaman ini dengan mengonsentrasikan satuan-satuan pasukan mereka di Ajnadayn (sebuah lokasi di Palestina, kemungkinan Al-Lajjun) dari sejumlah garnisun. Pergerakan ini mengunci pergerakan pasukan Muslim di daerah perbatasan, karena dengan adanya pasukan musuh dalam jumlah besar di belakang mereka, pasukan Muslim tidak lagi bebas untuk bergerak ke arah Syam tengah apalagi utara. Pasukan Muslim terlalu kecil untuk membalas ancaman Bizantin, dan Abu 'Ubaydah ibn Al-Jarrah, komandan tertinggi pasukan Muslim di front Syam, meminta bala bantuan tentara kepada Abu Bakr. Abu Bakr merespon dan mengirim bala bantuan tentara yang dipimpin oleh Khalid.

Ada dua rute berbeda untuk menuju Syam dari Iraq, rute pertama via Dawmatul Jandal (sekarang dikenal sebagai daerah Skaka) dan rute lainnya dengan melewari Ar-Raqqah. Karena pasukan Muslim di Syam memerlukan bala bantuan dalam waktu cepat, Khalid menghindari jalur yang biasa via Dawmatul Jandal karena jalur tersebut terlalu jauh dan menghabiskan berpekan-pekan untuk mencapai Syam. Ia juga menghindari rute Mesopotamia karena keberadaan garnisun Romawi di Syam utara dan Mesopotamia. Opsi untuk langsung berhadapan dengan Bizantin di saat pasukan Muslim sedang dikepung di Syam juga tidak mungkin dipilih karena artinya, mereka harus bertempur di dua front. Khalid memilih sebuah rute yang lebih dekat menuju Syam yang tidak biasa, yaitu melewati Gurun Syam. Ia membawa pasukannya melewati gurun, di mana dikabarkan bahwa pasukannya berjalan tanpa minum selama dua hari, sebelum akhirnya tiba di suatu lokasi yang memiliki oasis. Khalid juga diberitakan menyelesaikan masalah kekurangan air dengan metode orang Badwi Arab. Unta-unta dengan sengaja tidak diberi minum untuk waktu yang lama sehingga mendorong mereka untuk meminum air dalam jumlah banyak dalam satu waktu. Unta memiliki kemampuan untuk menyimpan air di perutnya yang pada saat dibutuhkan bisa diambil dengan menyembelih unta tersebut. Semua pasukan Muslim bekendara di atas unta dan metode ini sangat efektif.

Khalid memasuki Syam pada bulan Juni 634 dan dengan cepat merebut benteng perbatasan di Sawa, Arak, Palmyra, Al-Qaryatayn, dan Hawarin. Al-Qaryatayn dan Hawarin direbut setelah Pertempuran Al-Qaryatayn dan Pertempuran Hawarin. Setelah menundukkan benteng-benteng gurun ini, pasukan Khalid maju menuju Busra, sebuah kota kecil di dekat perbatasan Syam-Arabia dan ibukota Kerajaan Arab Kristen Ghassan, negara vasal Imperium Bizantin. Ia melewati Damaskus dengan menyeberangi celah pegunungan yang sekarang dikenal dengan Sanitul Uqab (Celah Al-Uqab), sama dengan nama panji pasukan Khalid. Dalam perjalanannya menuju Marajur Rahat, Khalid memukul mundur sebuah pasukan Ghassan dalam sebuah pertempuran singkat, Pertempuran Marajur Rahat.

Dengan beredar kabar tibanya Khalid, Abu Ubaydah memerintahkan Syurahbil ibn Hasanah, salah seorang komandan dari empat korp, untuk menyerang Kota Busra. Syurahbil ibn Hasanah kemudian mengepung Busra dengan 4.000 pasukan. Garnisun Bizantin dan Arab Kristen yang berjumlah lebih banyak dibanding pasukan Syurahbil, keluar kota untuk menyerang dan terlihat akan memenangkan pertempuran sampai kavaleri Khalid tiba dari gurun dan menyerang garis belakang pasukan Bizantin, menyelamatkan pasukan Syurahbil. Garnisun Bizantin mundur ke dalam benteng kota. Abu Ubaydah bergabung dengan Khalid di Busra. Khalid, dengan instruksi Khalifah, mengambil alih komando tertinggi. Benteng Busra jatuh pada pertengahan Juli 634, secara efektif meruntuhkan dinasti Ghassan. Setelah merebut Busra, Khalid menginstruksikan semua korp untuk bergabung dengannya di Ajnadayn dimana mereka bertarung dalam pertempuran penting melawan Bizantin pada tanggal 30 Juli 634. Sejarawan modern menilai pertempuran ini memegang kunci dalam mematahkan kekuatan Bizantin di Syam.

Kekalahan dalam Pertempuran Ajnadayn membuat Syam terbuka bagi Pasukan Muslim. Khalid memutuskan untuk merebut Damaskus, kubu pertahanan Bizantin. Di Damaskus, Thomas bertanggung jawab atas pertahanan kota. Thomas merupakan menantu Kaisar Bizantin, Heraklius.Ketika menerima laporan mata-mata bahwa Khalid bergerak ke arah Damaskus, Thomas mempersiapkan pertahanan kota. Ia menulis surat pada Heraklius, yang saat itu berada di Emesa, meminta bala bantuan. Thomas juga mengirim pasukannya untuk menghambat gerakan Khalid dan menambah waktu baginya untuk mempersiapkan diri menghadapi pengepungan. Dua pasukan yang ia kirim dipukul mundur dari Yakusa pada pertengahan Agustus dan dari Marajus Saffar pada tanggal 19 Agustus. Sementara itu, bala bantuan yang dikirim Heraklius tiba di Damaskus, namun sebagiannya terlambat saat kota sudah mulai dikepung oleh Khalid pada tanggal 20 Agustus. Untuk mengisolasi Damaskus dari daerah sekitar, Khalid menempatkan detasemen di selatan pada jalur menuju Palestina dan di utara pada rute Damaskus-Emesa, serta sejumlah detasemen lainnya yang berukuran lebih kecil di rute-rute lainnya menuju Damaskus. Bala bantuan dari Heraklius yang terlambat berhasil dihadang dan dipukul mundur oleh Khalid dalam Pertempuran Sanitul Uqab, 30 km dari Damaskus.

Khalid memimpin penyerbuan Damaskus dan menaklukkannya pada tanggal 18 September 634 setelah pengepungan selama 30 hari. Dalam sumber lainnya, disebutkan bahwa pengepungan berlangsung selama empat atau enam bulan. Setelah mendengar kabar jatuhnya Damaskus, Kaisar Heraklius meninggalkan Emesa menuju Antiokia. Kavaleri Khalid berhasil mengejar dan menyerang garnisun Bizantin yang meninggalkan Damaskus dalam Pertempuran Marajul Dibaj, 150 km di utara Damaskus. Abu Bakr wafat saat Pengepungan Damaskus dan Umar menjadi khalifah baru. Umar memberhentikan Khalid dari jabatannya dan menunjuk kembali Abu Ubaydah ibn Al-Jarrah sebagai komandan tertinggi pasukan Muslim di Syam. Abu Ubaydah menerima surat penunjukan dirinya dan pemberhentian Khalid saat pengepungan berlangsung, tetapi ia menunda pengumumannya sampai Damaskus ditaklukkan.

Era Umar (634-642) Pemberhentian Khalid dari Jabatan Komandan Tertinggi


Pada tanggal 22 Agustus 634, Abu Bakr wafat setelah sebelumnya mengangkat 'Umar, sepupu Khalid, sebagai Khalifah. Kebijakan pertama 'Umar adalah mencopot Khalid dari jabatannya sebagai komandan tertinggi pasukan Muslim dan mengangkat kembali Abu Ubaydah sebagai pengganti Khalid. Hubungan antara Khalid dan 'Umar telah tegang sejak insiden Malik ibn Nuwayrah. Khalid telah menjadi “cobaan bagi keimanan” kaum Muslim (karena ia tidak terkalahkan dalam peperangan) sehingga mereka menganggap kemenangan-kemenangan mereka dalam pertempuran adalah karena sosok Khalid; 'Umar diberitakan berkata, “Aku tidak memecat Khalid ibn Al-Walid karena aku marah kepadanya atau karena berkhianat pada kepercayaan atau tanggung jawabnya, namun alasanku hanyalah bahwa aku hendak rakyat tahu bahwa Allah-lah yang memberikan kemenangan.” Dengan demikian, Khalid diberhentikan sebagai komandan tertinggi dan kemudian pada tahun 638 kelak,diberhentikan total dari ketentaraan. Khalid menunjukkan kesetiaannya pada khalifah baru dan terus melanjutkan karir ketentaraannya sebagai komandan biasa di bawah pimpinan Abu Ubaydah. Ia diberitakan telah berkata, “Jika Abu Bakr wafat dan 'Umar menjadi Khalifah, maka kami dengar dan kami taat.” Mau tidak mau, pergerakan militer pasukan Muslim melambat karena Abu Ubaydah memimpin dengan lebih hati-hati. Penaklukan Syam berlanjut dibawah komandonya, dan Abu Ubaydah yang sebenarnya pengagum Khalid, menjadikan Khalid komandan kavaleri dan penasehat militernya.

Penaklukan Levant Tengah


Penaklukan Levant Tengah

Segera setelah penunjukan kembali Abu Ubaydah sebagai komandan tertinggi, ia mengirim detasemen kecil ke pasar tahunan yang diselenggarakan di Abul Quds, sekarang daerah Abla, dekat Zahl, 50 km di timur Beirut. Garnisun Bizantin dan Arab Kristen menjaga pasar ini, tetapi jumlah pasukan garnisun ini ternyata jauh lebih besar dari informasi mata-mata. Garnisun ini dengan cepat mengepung pasukan Muslim yang berjumlah kecil. Sebelum pasukan tersebut dihancurkan, Abu Ubaydah mengirim Khalid untuk menyelamatkan pasukan Muslim. Khalid menghadapi dan mengalahkan mereka dalam Pertempuran Abul Quds pada tangal 15 Oktober 634 dan kembali dengan membawa rampasan perang dari pasar tahunan tersebut sekaligus ratusan tawanan Romawi, semuanya dalam jumlah luar biasa besar.

Dengan direbutnya Syam Tengah, Muslim telah memberikan pukulan telak pada Bizantin. Komunikasi antara Syam Utara dan Palestina terputus. Abu Ubaydah memutuskan untuk bergerak menuju Fahl (Pella), yang berada di ketinggian 150 m di bawah muka laut, dimana garnisun Bizantin yang kuat beserta pasukan yang selamat dari Pertempuran Ajnadayn berada. Daerah tersebut sangat strategis karena dari sana, pasukan Bizantin bisa menyerang ke arah timur dan memotong jalur logistik dan komunikasi pasukan Muslim ke Arabia. Apalagi dengan keberadaan pasukan Bizantin yang besar ini, Palestina belum bisa diserang. Pasukan Muslim bergerak ke Fahl dengan Khalid memimpin pasukan garda depan. Ternyata, dataran di sekitar telah dibanjiri air luapan Sungai Jordan yang dibendung oleh ahli teknik pasukan Bizantin. Pasukan Bizantin akhirnya dikalahkan dalam Pertempuran Fahl pada malam hari tanggal 23 Januari 635.

Pertempuran Emesa dan Pertempuran Damaskus Kedua


Setelah meraih kemenangan di Fahl, pasukan Muslim berpencar. Amr ibn Al-'Ash dan Syurahbil ibn Hasanah bergerak ke selatan untuk merebut Palestina, sementara Abu Ubaydah dan Khalid bergerak ke utara untuk merebut Syam Utara. Ketika Muslim masih sibuk di Fahl, Heraklius melihat kesempatan dan dengan segera mengirim pasukan dipimpin Jenderal Theodras untuk merebut kembali Damaskus. Tidak lama setelah Heraklius melepas pasukan baru ini, Muslim telah menyelesaikan urusan di Fahl dan dalam perjalanan mereka ke Emesa. Pasukan Bizantin bertemu pasukan Muslim yang baru menyelesaikan setengah perjalanan ke Emesa, tepatnya di Marajur Rum. Pada malam hari, Theodras mengirim setengah dari pasukannya ke Damaskus untuk melancarkan serangan mendadak kepada garnisun Muslim. Mata-mata Khalid menginformasikan tentang gerakan ini, kemudian ia mendapat izin dari Abu Ubaydah untuk segera berangkat ke Damaskus dengan Garda Gerak Cepat-nya (Mobile Guard). Selagi Abu Ubaydah bertempur dan mengalahkan pasukan Romawi dalam Pertempuran Marajur Rum, Khalid bergerak ke Damaskus dengan Garda Gerak Cepat-nya, menyerang dan memukul mundur Jenderal Theodras dalam Pertempuran Damaskus Kedua. Satu pekan kemudian, Abu Ubaydah merebut Baalbek (Heliopolis), dimana sebuah Kuil Jupiter berdiri, dan Khalid dikirim langsung menuju Emesa.

Emesa dan Chalcis meminta gencatan senjata untuk satu tahun. Abu Ubaydah menerima permintaan tersebut dan daripada menyerbu kedua kota itu, ia memilih untuk mengonsolidasi kekuatan di tanah yang telah ditaklukkan dan merebut Hama, Ma’arrat, dan Nu’man. Namun, gencatan senjata tersebut merupakan instruksi dari Heraklius untuk membuat pasukan Muslim lengah dan memberi Heraklius waktu yang cukup untuk mempersiapkan pertahanan Syam Utara. Setelah mengumpulkan pasukan dalam jumlah besar di Antiokia, Heraklius mengirim mereka untuk memperkuat daerah-daerah di Syam Utara, terutama benteng Chalcis yang cukup kuat.[76] Dengan tibanya pasukan Bizantin di kota tersebut, perjanjian gencatan senjata dilanggar. Abu Ubaydah dan Khalid kemudian bergerak ke Emesa dan sebuah pasukan Bizantin yang menghambat Garda Gerak Cepat Khalid berhasil dipukul mundur. Pasukan Muslim pun mengepung Emesa yang akhirnya berhasil direbut pada bulan Maret 636 setelah pengepungan selama dua bulan.

Pertempuran Yarmuk

Setelah merebut Emesa, pasukan Muslim bergerak ke utara untuk merebut keseluruhan Syam Utara. Sementara itu, Heraklius telah mengonsentrasikan pasukan besar di Antiokia untuk merebut kembali Syam. Khalid mendapat berita ini dari tawanan Romawi di Syam Utara. Berdasarkan pengalaman-pengalaman sebelumnya, Heraklius berencana menghindari pertempuran besar dengan pasukan Muslim. Ia berencana untuk mengisolasi dan memisahkan korp-korp pasukan Muslim satu sama lain dan menghancurkannya satu per satu. Lima pasukan besar diluncurkan ke Syam dari rute-rute berbeda pada bulan Juni 636 untuk merebutnya kembali. Khalid memahami rencana Heraklius dan khawatir pasukan Muslim akan dihancurkan secara terpisah. Dalam rapat dewan militer, ia menyarankan Abu Ubaydah untuk menarik mundur semua pasukan Muslim ke satu tempat untuk bersiap menghadapi pertempuran besar melawan Bizantin. Abu Ubaydah mengikuti saran Khalid dan memerintahkan semua pasukan Muslim untuk mengevakuasi diri, meninggalkan semua kota yang telah ditaklukkan dan berkumpul di Jabiya.] Manuver ini mengacaukan rencana Heraklius karena ia sangat tidak mengharapkan pasukannya bertarung dalam pertempuran besar dengan pasukan Muslim, dimana kavaleri ringan Muslim bisa digunakan secara efektif melawan kavaleri Bizantin yang lebih berat dan lebih lambat. Dari Jabiya, sesuai saran Khalid, Abu Ubaydah memerintahkan pasukan Muslim untuk mundur lagi ke dataran Sungai Yarmuk yang memiliki persediaan yang cukup untuk makanan kuda dan air sehingga kavaleri dapat digunakan dengan lebih efektif. Abu Ubaydah, dalam rapat dewan militer berikutnya, menyerahkan komando tertinggi pasukan Muslim kepada Khalid untuk sementara. Khalid bertindak sebagai komandan lapangan dalam pertempuran dan menjadi otak dari penghancuran pasukan Bizantin.

Pada tanggal 15 Agustus, Pertempuran Yarmuk terjadi, berlangsung selama 6 hari, dan berakhir dengan kekalahan telak pasukan Bizantin. Pertempuran Yarmuk dinilai sebagai salah satu pertempuran paling penting dalam sejarah. Kekalahan ini adalah kekalahan bersejarah yang menutup kekuasaan Bizantin di Syam. Pentingnya kekalahan ini sangat besar sampai-sampai pasukan Bizantin tidak mampu bangkit kembali dalam beberapa waktu ke depan. Kekalahan ini juga membuat semua wilayah Imperium Bizantin rentan terhadap serangan pasukan Muslim Arab. Pertempuran ini merupakan pertempuran terbesar yang pernah terjadi di tanah Syam sampai saat itu dan dipercaya sebagai pertunjukan keajaiban taktis militer dari Khalid.

Merebut Yerusalem

Dengan terpukulnya pasukan Bizantin, Muslim dengan cepat merebut kembali semua wilayah yang telah mereka rebut sebelum Pertempuran Yarmuk. Pasukan Muslim bergerak ke selatan, tempat kubu pertahanan terakhir Bizantin, yaitu Yerusalem. Di sana, banyak pasukan Bizantin yang selamat dari "bencana" Yarmuk berlindung.[84] Pengepungan Yerusalem berlangsung empat bulan sampai kota tersebut bersedia untuk menyerah, tetapi dengan syarat khalifah sendiri harus hadir di sana. 'Amr ibn Al-'Ash, salah satu dari empat komandan korp, menyarankan agar Khalid dikirim menyamar sebagai khalifah karena kemiripannya dengan Khalifah 'Umar. Namun penyamaran Khalid diketahui dan akhirnya 'Umar sendiri yang hadir. Yerusalem menyerah pada bulan April 637. Setelah Yerusalem direbut, pasukan Muslim menyebar kembali. Korps yang dipimpin Yazid berangkat ke Damaskus dan merebut Beirut. Korps yang dipimpin 'Amr dan Syurahbil menaklukkan sisa daerah Palestina, sementara Abu Ubaydah dan Khalid dengan 17.000 pasukan berangkat ke utara untuk menaklukkan keseluruhan Syam Utara.

Penaklukan Syam Utara

Dengan telah direbutnya Emesa, Abu Ubaydah dan Khalid bergerak menuju Chalcis yang merupakan pertahanan Bizantin yang paling penting. Melalui Chalcis, Bizantin akan mempertahankan Anatolia, Armenia (kampung halaman Heraklius), dan Antiokia, ibukota Romawi untuk daerah Asia. Abu Ubaydah mengirim Khalid dengan garda elit gerak cepatnya menuju Chalcis. Benteng Chalcis dijaga oleh pasukan Yunani di bawah kepemimpinan Menas yang dilaporkan memiliki kedudukan penting, langsung di bawah kaisar. Menas melancarkan strategi yang tidak lazim dilakukan oleh pasukan Bizantin. Ia memutuskan mengirim pasukan untuk berhadapan langsung dengan Khalid dengan tujuan menghancurkan elemen pasukan garda depan sebelum pasukan utama Muslim tiba. Pasukannya bertemu Khalid di Hazir, 5 km di timur Chalcis. Pasukan Romawi ternyata dihancurkan dalam Pertempuran Hazir yang memaksa 'Umar untuk memuji kejeniusan Khalid dalam bidang militer. Ia diberitakan telah berkata, “Khalid merupakan komandan sejati, semoga Allah mengampuni Abu Bakr. Ia menilai orang lebih baik dari pada aku.”

Abu Ubaydah segera bergabung dengan Khalid di depan bentang Chalcis yang tampaknya tidak mungkin ditembus, namun ternyata menyerah pada bulan Juni 637. Dengan kemenangan strategis ini, daerah di utara Chalcis terbuka lebar bagi Muslim. Khalid dan Abu Ubaydah berikutnya merebut Aleppo dari pasukan Bizantin yang telah putus asa pada Oktober 637. Tujuan berikutnya adalah kota indah, Antiokia, ibukota Imperium Bizantin untuk wilayah Asia. Sebelum bergerak menuju Antiokia, Khalid dan Abi Ubaidah memutuskan untuk mengisolasi kota ini dari Anatolia; hal ini dilakukan dengan merebut benteng-benteng yang menyediakan bantuan pertahanan bagi Antiokia, terutama A'zaz di timur laut Antiokia. Dalam rangka menyelamatkan imperium dari kebinasaan, sebuah pertempuran mati-matian dilakukan oleh pasukan pertahanan Antiokia melawan pasukan Muslim di luar kota dekat Sungai Orontes, yang dikenal sebagai Pertempuran Jembatan Besi. Pasukan Bizantin disusun atas pasukan yang selamat dari tragedi Yarmuk maupun mereka yang selamat dari kekalahan-kekalahan Bizantin lainnya di Syam. Setelah dikalahkan, pasukan Bizantin mundur ke dalam Antiokia dan pasukan Muslim mengepung kota tersebut. Karena tidak ada harapan lagi, Antiokia menyerah pada tanggal 30 Oktober 637 dengan syarat semua pasukan Bizantin diberikan keamanan untuk pulang ke Konstantinopel.

Abu Ubaydah kemudian mengirim Khalid ke utara, sementara ia sendiri menuju ke selatan dan merebut Lazkia, Jabla, Tarsus, dan daerah pantai barat Pegunungan Lebanon. Khalid bergerak ke utara dan menyerbu teritori sampai ke Sungai Kizil (Kizilirmak) di Anatolia. Kaisar Heraklius telah meninggalkan Antiokia menuju Edessa sebelum kedatangan Muslim. Ia mempersiapkan pertahanan penting di daerah Jazira dan Armenia, kemudia pergi menuju ibukota, Konstantinopel. Dalam perjalanannya menuju Konstantinopel, ia berhasil kabur dari Khalid yang setelah merebut Marash, langsung menuju selatan menuju Munbij. Heraklius dengan terburu-buru mengambil jalan pegunungan, melewati Gerbang Cilician (Celah Cilician) dan dilaporkan telah berkata,

"Selamat tinggal, selamat tinggal yang panjang untuk Syam, provinsiku
tercinta. Engkau menjadi milik kafir (musuh) sekarang. Damai sejahtera bagi kamu,
Wahai Syam - tanah yang akan menjadi begitu indah di tangan musuh."-Kaisar Heraklius

Setelah berbagai kekalahan dialami, terutama di Yarmuk, imperiumnya sangat rentan diserbu pasukan Muslim. Dengan sedikit sumber daya militer yang tersisa, ia tidak punya kesempatan untuk kembali menguasai Syam. Dalam rangka memperoleh waktu untuk mempersiapkan diri mempertahankan sisa imperiumnya, Heraklius harus membiarkan pasukan Muslim merebut Syam. Ia meminta Arab Kristen dari Jazira untuk mengumpulkan pasukan besar dan bergerak menuju Emesa, markas Abu Ubaydah. Abu Ubaydah kemudian menarik semua pasukannya dari Syam Utara menuju Emesa, dan Arab Kristen mengepung Emesa. Khalid lebih memilih untuk bertempur di luar kota, tetapi Abu Ubaidah lebih memilih untuk menyerahkan masalah ini langsung kepada 'Umar yang pada akhirnya dapat menyelesaikan masalah ini dengan brilian. Sebuah detasemen bala bantuan dikirim ke Emesa dari Iraq di bawah pimpinan Qa’qa ibn Amr, seorang veteran Yarmuk yang setelah Pertempuran Yarmuk dikirim ke Iraq untuk membantu dalam Pertempuran Al- Qadisiyyah (pertempuran puncak dalam Penaklukan Persia-Sassanid-pent). 'Umar sendiri berangkat dari Madinah dengan membawa 1.000 pasukan. Arab Kristen membatalkan pengepungan dan pulang ke Jazira setelah mendengar berita ini. Melihat kondisi ini, Khalid dan Garda Gerak Cepat-nya keluar dari Emesa dan mengalahkan pasukan yang sedang mundur itu dengan menyerang mereka dari belakang. Inilah usaha terakhir Heraklius untuk mencoba merebut kembali Syam.

Ekspedisi Militer di Armenia dan Anatolia 

Ekspedisi Militer di Armenia dan Anatolia

Setelah pertempuran, 'Umar mengeluarkan perintah untuk menaklukkan Jazira dan berhasil diselesaikan pada akhir musim panas tahun 638. Setelah penaklukan Jazira, Abu 'Ubaydah mengirim Khalid dan Ayaz ibn Ghanam (penakluk Jazira) untuk menyerbu teritori Bizantin di utara Jazira. Mereka bergerak secara terpisah dan merebut Edessa, Amida (Diyarbakir), Malatya, dan masuk ke daerah Armenia milik Bizantin sampai ke daerah Ararat. Mereka juga dilaporkan memasuki Anatolia tengah. Heraklius telah meninggalkan semua benteng di antara Antiokia dan Tarsus untuk membuat zona penyangga antara area di bawah pemerintahan Muslim dan bagian utama Anatolia.

'Umar untuk sementara menghentikan pasukannya agar tidak menusuk lebih dalam ke Anatolia dan memerintahkan Abu 'Ubaydah yang sekarang menjadi gubernur Syam, untuk mengonsolidasi pemerintahan baru di Syam. 'Umar dilaporkan telah berkata, “Aku berharap ada sebuah dinding api antara kita dan Romawi sehingga mereka tidak bisa memasuki wilayah kita dan kita tidak bisa memasuki wilayah mereka.” Karena pemecatan Khalid dari pasukan dan rentetan kemarau serta wabah penyakit di tahun berikutnya, pasukan Muslim tidak meneruskan invasi ke Anatolia. Ekspedisi militer di Anatolia dan Armenia menandai berakhirnya karir militer Khalid.

Pemecatan dari Pasukan

Khalid yang sedang berada di puncak karirnya merupakan sosok yang sangat terkenal dan dicintai pasukannya. Masyarakat menganggapnya pahlawan nasional, dan ia dikenal secara luas sebagai Sayfullah (Pedang Allah). Dalam suatu kesempatan saat Khalid berada di Emesa, ia mandi dengan air yang dicampur sejenis campuran alkohol. Mata-mata 'Umar menginformasikan hal ini pada Khalifah. Karena alkohol dilarang dalam Islam, 'Umar meminta Khalid untuk menjelaskan perkara ini. Khalid menyampaikan bahwa hal ini terlalu berlebihan mengingat larangan Islam terhadap alkohol adalah larangan untuk meminum, bukan pada penggunaan di luar badan. Alasan ini diterima oleh 'Umar dan majelis musyawarah tinggi di Madinah. Sebuah kejadian lainnya berlangsung tidak lama setelah Khalid berhasil merebut Marash (Kahramanmaras) pada musim gugur tahun 638. Ia bertemu dengan Ash’as, seorang penyair terkenal dan veteran dari front Penaklukan Persia. Ash’as bersya’ir yang isinya memuji Khalid dan kemudian, Khalid menghadiahkannya uang 10.000 dirham (sekitar Rp 670.000.000 zaman sekarang-pent), yang tampaknya dari kas negara.

'Umar dan majelis musyawarah tinggi di Madinah menilai perbuatan ini sebagai penyalahgunaan kas negara. Meskipun kasus ini tidak mengharuskan dicopotnya jabatan, 'Umar menggunakan kasus ini sebagai alasan. Ia dengan segera menulis surat kepada Abu 'Ubaydah yang isinya memerintahkan Abu 'Ubaydah untuk membawa Khalid ke pengadilan serta mencopot sorban dan tutup kepalanya. 'Umar memerintahkannya untuk menginterogasi Khalid, dari mana asal uang yang Khalid berikan kepada Ash’as: apakah dari kantongnya sendiri atau dari kas negara. Jika ia mengaku bahwa ia mengambil uang dari rampasan perang, ia dinyatakan bersalah atas penyalahgunaan kas negara. Jika ia menjawab bahwa uang itu dari kantongnya sendiri, ia dinyatakan bersalah atas tindakan berlebih-lebihan.

Atas jawaban apapun, Khalid akan dipecat dan Abu 'Ubaydah diperintahkan untuk mengambil alih semua tanggung jawabnya. Abu 'Ubaydah yang merupakan pengagum Khalid sekaligus mencintainya seperti adik sendiri, berkata bahwa ia tidak sanggup melakukannya. Akhirnya, Bilal bin Rabah ditunjuk untuk menjalankan tugas ini dan memanggil Khalid untuk berangkat dari Chalcis ke Emessa, di mana ia akan diadili. Dalam pengadilan tersebut, ia menyatakan bahwa uang itu adalah uangnya sendiri sehingga ia dibebaskan dari tuduhan penyalahgunaan kas negara. Namun, saat ia berangkat menemui Abu 'Ubaydah, Abu 'Ubaydah berkata kepadanya bahwa ia telah dipecat atas perintah 'Umar dan diharuskan untuk pulang ke Madinah. Khalid kemudian pulang dahulu ke Chalcis dan mengucapkan kata-kata perpisahan dengan pasukan Garda Gerak Cepat-nya. Ia kemudian berangkat ke Madinah untuk menemui 'Umar. Ia memprotes pemecatannya yang ia nilai tidak adil. 'Umar diberitakan memberikan pujian kepadanya, “Tugasmu telah selesai; dan tidak seorangpun yang meraih apa yang telah kamu capai. Tetapi itu semua bukanlah manusia yang menentukan; Allah-lah yang berkehendak…”

Dilaporkan juga bahwa belakangan, 'Umar menjelaskan tentang pemecatan Khalid,
“Aku tidak memecat Khalid karena kemarahanku atau karena ia telah berlaku buruk, tetapi karena manusia memuja-mujanya dan masuk dalam kesesatan. Aku khawatir manusia akan bergantung kepadanya. Aku ingin mereka paham bahwa Allah-lah yang memberikan kita kemenangan; dan agar tidak terjadi kerusakan di atas muka bumi ini.”-Khalifah 'Umar.

Demikianlah bagaimana kesuksesan karir militer Khalid berakhir.

Meskipun banyak yang menilai hubungan kedua saudara sepupu, 'Umar dan Khalid, selalu kurang “mesra”, keduanya tidak pernah menyimpan perasaan benci satu sama lain. Saat Khalid wafat, ia mempercayakan semua barang peninggalannya kepada Umar dan menjadikan 'Umar sebagai eksekutor pesan wasiat dan pembagi harta warisnya.

Belum sampai empat tahun sejak pemecatannya, Khalid wafat dan dikuburkan di Emesa, tempat tinggalnya semenjak pemecatan tersebut. Makamnya sekarang menjadi bagian dari sebuah masjid yang bernama Masjid Khalid ibn Al-Walid. Batu nisannya menunjukkan 50 pertempuran yang ia pimpin tanpa pernah terkalahkan (tidak termasuk pertempuran kecil). Dilaporkan bahwa ia menginginkan mati sebagai syahid di medan pertempuran dan terlihat kecewa ketika ia tahu akan meninggal di tempat tidurnya. Khalid menyatakan kesedihannya dalam sebuah kalimat terakhirnya,
“Aku telah mengikuti begitu banyak pertempuran mencari kesyahidan sampai-sampai tidak ada satu tempat tersisa di tubuhku yang tidak memiliki goresan atau bekas luka akibat tombak atau pedang. Dan di sini aku berada, mati di atas tempat tidur seperti seekor unta tua. Semoga mata para pengecut tidak pernah tertidur.”-Khalid ibn Walid

Istri Khalid yang merasa sedih atas ucapan suaminya berkata pada Khalid, “Engkau diberi gelar Sayfullah yang berarti Pedang Allah, dan Pedang Allah tidaklah untuk dipatahkan, jadi, demikianlah Engkau tidak ditakdirkan untuk menjadi syahid, tetapi wafat seperti seorang penakluk.”

Warisan Khalid Dalam Bidang Militer

Khalid diberitakan telah mengikuti sekitar seratusan pertempuran, baik pertempuran besar maupun kecil, termasuk dalam sejumlah duel. Karena tidak pernah terkalahkan, ia dinilai sebagai salah satu jenderal perang terbaik sepanjang sejarah.

Khalid adalah arsitek dari hampir seluruh doktrin militer awal pasukan Muslim. Ia merupakan pelopor taktik utama yang digunakan pasukan Muslim di masa Penaklukan Awal Islam. Salah satu prestasi Khalid dalam konteks ini adalah pemanfaatan keterampilan keprajuritan Badwi Arab dalam skala besar. Ia dipercaya telah mengembangkannya dalam sebuah kesatuan semi-reguler yang dikenal dengan nama Mubarizun (Jagoan-jagoan) yang akan menantang atau menerima tantangan duel kapten-kapten musuh. Ahli-ahli pedang yang sangat terlatih dan terampil ini diberdayakan secara efektif untuk membunuh sebanyak mungkin kapten-kapten musuh sekaligus memberikan pukulan psikologis pada semangat musuh. Pertempuran Ajanadayn mungkin merupakan contoh terbaik penerapan bentuk peperangan psikologis ini.

Selain itu, prestasi terbesarnya adalah konversi doktrin taktik Arab menjadi sebuah sistem strategi. Sebelum Khalid, orang-orang Arab dasarnya adalah penyerbu dan ahli pertempuran-pertempuran kecil. Khalid mengubahnya menjadi taktik yang dapat digunakan di mana saja. Ia senantiasa berusaha melakukan pertempuran-pertempuran kecil dengan sabar sampai musuh hancur. Awalnya, ia akan membawa pasukannya maju dan menunggu sampai keseluruhan pertempuran menjadi sejumlah besar pertempuran kecil antara kesatuan-kesatuan kecil. Kemudian, setelah membuat musuh kelelahan, ia akan meluncurkan kavalerinya menuju sayap musuh untuk menjalankan taktik memukul dan menahan (hammer and anvil).

Kebanyakan dari kejeniusan strategi dan taktik Khalid ada pada penggunaan metode ekstrem. Ia terlihat menekankan upaya penghancuran musuh secara total daripada hanya memenangkan pertempuran dengan mengalahkan musuh secara sederhana atau memukul mundurnya. Contohnya, ketika ia menerapkan manuver double envelopment melawan pasukan Persia yang berjumlah lebih besar dalam Pertempuran Walaja,. Manuver brilian lainnya terlihat pada Pertempuran Yarmuk di mana ia secara jelas menjebak pasukan Bizantin antara tiga tebing sungai curam dengan diam-diam merebut dan menutup jalur pelarian mereka, yaitu sebuah jembatan.

Khalid memanfaatkan pengetahuannya tentang bentuk muka bumi dalam setiap kesempatan untuk memperoleh lokasi menguntungkan terhadap musuh. Dalam ekspedisi militer di Persia, ia tidak pernah masuk terlalu jauh ke dalam teritori Persia dan selalu menempatkan gurun Arabia di belakangnya agar pasukannya bisa mundur kapan saja jika kalah. Baru setelah semua pasukan terkuat Persia dan sekutunya hancur, ia menusuk jauh ke dalam daerah Eufrat dan merebut ibukota daerah Iraq, Al-Hirah. Lagi-lagi di Yarmuk, bentuk muka bumi membantu dalam mengeksekusi strategi besarnya menghancurkan pasukan Bizantin.

Pasukan Khalid tidak tertandingi dari segi mobilitas sampai munculnya gerombolan Mongol pada abad ke-13. Faktanya, taktik orang-orang Arab dari gurun identik dengan taktik orang-orang Mongol penghuni stepa. Semua tentara Khalid naik unta saat berjalan jauh sedangkan orang Mongol naik kuda. Perbedaannya adalah bahwa pasukan Arab bukanlah pemanah berkuda. Manuver yang paling umum Khalid gunakan adalah serangan mendadak. Beberapa serangan dadakan yang ia lakukan adalah serangan malam dari tiga sisi pada kemah-kemah Persia di Zumail, Muzayyah, dan Saniyy. Pasukannya yang berkecapatan tinggi dengan cepat menghancurkan perkemahan Persia dan sekutu Arabnya dalam jarak sekitar 100 km. Tidak terkecuali dalam Pertempuran Marajul Dibaj, pasukannya yang cepat, bermanuver mengelilingi pasukan Bizantin, lalu muncul dari empat sisi berbeda dan membuka beberapa front dalam satu waktu, sebuah manuver yang pada Abad ke-13 menjadi salah satu prinsip manuver pasukan Mongol.

Sebuah contoh kegesitan dan kecepatan strategi Khalid adalah pergerakannya masuk ke daerah Syam milik Romawi. Kaisar Heraklius telah mengirimkan semua pasukan garnisunnya yang ada di sana menuju Ajnadayn dengan tujuan menahan pasukan Muslim di daerah perbatasan Syam-Arab. Heraklius mengira satu-satunya jalur yang akan dilalui Khalid adalah jalur di perbatasan ini. Namun Khalid yang saat itu berada di Iraq, mengambil jalur yang tidak diduga-duga: berjalan melewati gurun kering Syam dan memberi kejutan bagi Bizantin dengan muncul tiba-tiba di Syam Utara. Dengan cepat, Khalid merebut beberapa kota dan memotong jalur komunikasi pasukan Bizantin di Ajnadayn dari pusat komando mereka di Emesa, tempat Heraklius berada.

Kavaleri ringan Khalid, Garda Gerak Cepat (Mobile Guard), berperan sebagai inti dari kavaleri Muslim selama invasi di Syam. Garda tersebut beranggotakan pasukan yang sangat terlatih dan berpengalaman, dengan mayoritas di antara mereka telah menjadi bawahan Khalid selama ekspedisi Arabia dan Persia. Kavaleri Muslim adalah sebuah kavaleri ringan bersenjatakan lembing sepanjang 5 meter. Mereka bisa menyerbu dalam kecepatan luar biasa tinggi dan biasanya menerapkan taktik kar wa far yang secara harfiah berarti “serbu dan mundur” atau dalam istilah modernnya: “hit and run”. Mereka akan menyerang sisi sayap dan belakang musuh. Kemampuan manuvernya sangat efektif dalam menghadapi kavaleri berat Bizantin dan pasukan Cataphract dari Persia. Serangan sayap Khalid dalam Pertempuran Yarmuk menunjukkan bagaimana ia sangat memahami potensi dan kekuatan pasukan berkudanya.

Prajurit-prajurit Arab juga jauh lebih ringan (baju bajanya) daripada prajurit Romawi dan Persia. Akibatnya, mereka rentan dalam pertarungan jarak dekat dan serangan panah. Oleh karena itu, Khalid tidak pernah membuat kesalahan dalam pertempuran dan sangat efektif dalam menggunakan laporan intelijen yang ia angkat dari orang-orang lokal dengan bayaran yang cukup tinggi. Sejarawan Persia, Ath-Thabari berkata,
“Dia (Khalid) tidak membiarkan dirinya tertidur dan tidak pula mengizinkan musuhnya tidur; tidak ada yang bisa disembunyikan darinya.”-Ath-Thabari, Sejarah para Nabi dan para Raja

Khalid juga menjadi Gubernur Militer Iraq tahun 632-633 dan Gubernur Chalcis, daerah paling strategis di Syam Utara. Meskipun dia tidak pernah aktif secara politik, ketenarannya mengangkat perhatian 'Umar, yang kemudian memecat Khalid dari ketentaraan.

'Umar juga dilaporkan menyesali keputusannya tersebut. Diberitakan bahwa setelah Musim Haji tahun 642, 'Umar memutuskan untuk menunjuk Khalid kembali ke jabatan militer, kemungkinan untuk melanjutkan kembali Penaklukan Persia. Namun takdir berkata lain. Ketika 'Umar tiba kembali di Madinah, berita wafatnya Khalid juga datang. Berita ini datang seolah badai yang menerjang Madinah. Para wanita keluar ke jalan, dipimpin oleh wanita-wanita Banu Makhzum (klan Khalid), menangis dan menepuk dada mereka. Meskipun 'Umar sangat kukuh dalam menerapkan ajaran agama (Islam melarang meratapi kematian seorang Muslim), kali ini ia membuat pengecualian. 'Umar berkata,
“Biarkan wanita-wanita Banu Makhzum berkata apa saja tentang Abu Sulaiman (Khalid), karena mereka tidak berbohong, patutlah mereka menangis atas pribadi seperti Abu Sulaiman.”-Khalifah 'Umar

Tercatat juga bahwa suatu kali, 'Umar duduk bersama sahabat-sahabatnya. Salah seorang dari mereka mengangkat pembicaraan tentang Khalid. 'Umar berkata, “Demi Allah, dia adalah perisai Islam melawan musuh-musuh, hatinya bersih dari dendam.” Ali yang juga sedang berada di sana, diberitakan berkata, “Lalu mengapa Engkau memecatnya dari ketentaraan?” 'Umar dengan jujur menjawab, “Aku salah.” Menurut berita lainnya, di saat 'Umar mendekati ajalnya, ia memberi nama-nama orang yang akan ditunjuknya sebagai penggantinya sebagai khalifah. Nama Khalid termasuk di dalamnya.

Keluarga Khalid Bin Walid

Ayah Khalid bernama Walid ibn Al-Mughira dan ibunya bernama Lubabah As-Saghirah. Walid diberitakan memiliki banyak istri dan anak. Hanya sejumlah nama anaknya yang tercatat dalam sejarah. Anak-anak lak-laki Walid yang dikenal (selain Khalid) adalah

Hisyam ibn Walid
Walid ibn Walid
Ammarah ibn Walid
Abdusy Syams ibn Walid.[4]


Anak-anak perempuan Walid adalah
Faktah bint Walid,
Fatimah bint Walid,[4]
Najiyah bint Al-Walid (masih diperdebatkan).


Jumlah anak Khalid ibn Al-Walid tidak diketahui, tetapi tiga anak laki-laki dan satu orang anak perempuannya tercatat dalam sejarah:
Sulaiman bin Khalid,
Abdurrahman ibn Khalid, dan
Muhajir bin Khalid.


Sulayman, anak tertua Khalid, gugur dalam Penaklukan Mesir, meskipun sumber lainnya mengklaim bahwa ia gugur dalam Pengepungan Diyarbakir pada tahun 639. Muhajir bin Khalid gugur dalam Pertempuran Siffin di mana ia berpihak pada Khalifah Ali. Sedangkan Abdurrahman ibn Khalid menjadi Gubernur Emesa di masa pemerintahan Khalifah Ketiga, 'Utsman ibn 'Affan. Abdurrahman juga terlibat di Pertempuran Siffin sebagai salah satu komandan dalam pasukan Muawiyah. Abdurrahman juga mengikuti Pengepungan Konstantinopel tahun 664. Abdurrahman kemudian hendak ditunjuk sebagai penerus Khalifah Muawiyah, tetapi menurut sebagian sumber, ia diracun oleh Muawiyah yang menghendaki anaknya, Yazid, untuk menjadi penerusnya. Jalur keturunan laki-laki Khalid dipercaya telah habis saat cucunya, Khalid bin Abdurrahman bin Khalid wafat.


Khalid Bin Al-Waleed Sword Of Allah.pdf
Tulisan  A. I. Akram Lengkap Dalam bahasa inggris 


Download Pdf Khalid bin walid

0 Response to "KHALID BIN WALID THE SWORD OF ALLAH"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel